Seorang perempuan berkaca mata yang bernama Cyntia Az zahra perempuan yang paras wajahnya anggun sedang berkumpul bersasma teman-teman smpnya sedang berunding mengenai kelulusannya nanti, pasalnya ia dan teman-temannya berada dikelas 9 atau bisa disebut kelas tertinggi disekolah.

“Tia, setelah lulus nanti kamu mau melanjutkan sekolah kemana?.” Tanya Nabilah. “Kalau aku pengennya SMA Arwana yang disana banyak cogan (cowok ganteng), aku denger SMA itu termasuk salah satu sekolah favorit, jadi aku ingin masuk kesana.” Jelasnya panjang pada salah satu temannya.

PPada saat Tia dirumah, Tia dipanggil oleh ayahnya “Tia sini nak ayah ingin bicara padamu.” “Iya ada apa yah?.” Tanya cyntia. “Kamu kan ingin lulus SMP ayah ingin sekali kamu itu masuk disalah satu pesantren ternama, ayah ingin kamu tidak menolak keinginan ayah.”

PDeg….. jantung cyntia berhenti sejenak dan Tia tidak bisa mencerna perkataan ayahnya dan tidak bisa memikirkan perkataan ayahnya, karna baru saja tia merencanakan kelulusannya bersama teman-temannya. “yah, tidak ingin masuk pondok pesantren karna disana orangnya tidak ramah dan tempatnya kumuh, dan yang cyntia takutin cyntia tidak bisa bersama ayah&ibu lagi dan juga teman-teman cyntia, pokoknya cyntia tidak mau yah!!” tolak cyntia tegas.

PLalu ayah membelai kepala anak semata wayangnya itu dengan lembut seraya berkata “nak, kamu adalah satu-satunya anak ayah hanya kamu yang bisa membahagiakan ayah, kamu adalah perempuan yang ayah sayangi setelah ibumu dan nenekmu, jadi ayah ingin kamu tidak menolak nak.” perkataan ayahnya itu membuat luluh hati cyntia lalu cyntia menangis seraya memeluk ayahnya.

“Yah cyntia ingin seperti teman-teman seperjuangan cyntia, cyntia ingin masuk SMA impian yang cyntia damba-dambakan sejak dulu” jelas cyntia. “Nak, sekolah diluar itu berbahaya, kamu tau kan pergaulan zaman sekarang? Ayah tidak mau kamu terjerumus kedalam pergaulan bebas.” Ayahnya terus membujuk anaknya itu dan melepaskan pelukannya. “Yah, cyntia janji cyntia akan jaga pergaulan, terusss…” “tidak nak! Kamu tidak boleh membantah, pokoknya kamu harus masuk pesantren.” Potong ayahnya tegas lalu meninggalkan anaknya itu yang diam membisu seribu bahasa. Pasrah. Pada satu ujian tiba cyntia tampak murung memikirkan sesuatu dan teman-temannya heran melihat ingkah laku yang tidak biasa. “kamu kenapa ra? Tampaknya kamu tidak ceria seperti biasanya”. Tanya uswatun. “ aku bingung dengan keputusan ayahku yang menuntut ku masuk pesantren, akutidak habis pikir kalau aku benar benar masuk pesantren”.

PPerkataan cyntia seperti orang tidak makan tiga hari tiga malam karna tawa lemasny. Setelah ujian selesai, cyntia tidak memikirkan nilai-nilainya. “wong aku juga mau masuk pesantren.” Batin cyntia. Teman-temannya sangat senang setelah melihat pengumuman kelulusan yang dinyatakan lulus 100% terkecuali cyntia ia merasa hidupnya sudah diambang pintu. Sampainya dirumah, cyntia berjalan lemas sekali seperti tidak ada gairah hidup. Tia pun dampai diruang tamu dan disitu ada ibu dan ayahnya. “nak sini ibu dan ayah ingin bicara kepadamu”. Panggil ibunya yang disusul senyum tulusnya. “ ada apa bu, yah?”. Tanya cyntia ketika berada didepan didepan kedua orangtuanya. “ kamu sudah siapkan untuk menimba ilmu dipesantren?”.

Tanya ibu. “hmmmm..sebenernya cyntia tidak siap bu tapi cyntia ingin jadi anak yang nurut dan berbakti pada ibu dan ayah”. Ucap cyntia membuat ayah dan ibunya seketika memeluknya. “nak kamu harus siap karana Allah ta’ala san sebulan lagi kamu akan berangkat ke pesantren.” Jelas ibunya.

“HAH,sebulan lagi?? Batin cyntia dan cyntia melepaskan pelukan ayah dan ibunya lalu tia berjalan menuju kamar untuk istirahat dan memikirkan kehidupan barunya nanti. Bulan yang ditunggu kedua orang tuanya akhirnya tiba. “cyntia ayo siap-siap berangkat jangan lupa barang-barangnya dikemasi.” Teriak ibu, yang membuat hidup cyntia semakin malas menjalaninya. “iya bu sebentar lagi.” Balas cyntia dengan nada malas. Dan tak lama cyntia menghampiri kedua orangtuanya dengan barang-barang yang masya allah banyak sekali. Kedua orangtuanya pun tersenyum. “dah siap semuanya kan? Dan barang-barang sudah dikemasi semuanya?.” Tanya ibu.

“sudah bu, semanya sudah beres.” Jawab cyntia dengan senyum paksa.” Jangan lupa pamitan dengan keluarga!”. Perintah ayah. Dan setelah berpamitan kepada keluarga dan tetangganya beserta teman-temannya lau cyntia berangkat bersama kedua orangtuanya ke pondok pesantren, ada persaan gembira dan sedih. Gembira karna dapat uang banyak, dan perasaan sedih karena tidak jadi masuk ke sekola impiannya itu. Setelah sampai di pondok pesantren pertama kali yang cyntia lihat nama pondok itu “ AL MAHABBAH” nama yang asing batin cyntia. Ternyata asrama antara putra dan putri berdekatan sehingga cyntia bisa melihat beberapa santriwan sedang bersih-bersih. “oh ini yang namanya pesantren”. Cyntia bergumam pelan. Mobil pun berhenti depan asrama putri, ibu dan ayahnya turun yang disusul oleh cyntia dibelakangnya. Seketika sepasang mata cyntia melotot melihat santriwan berpeci hitam berkemeja biru berjas hitam. “waw ganteng banget, aku harus tau namanya! Tetapi sekarang aku di pondok tidak bisa bebas.” Batin cyntia. “ ayo nak sini, kamu melamun saja melihat apa si?. Panggilan ayahnya membubarkan lamunanya lalu cyntia pun menghampiri kedua orangtuanya, dan tia menengok sekali lagi ternyata santri yang tadi sudah pergi.

“Neng tolong antarkan anak saya menuju kamarnya!.” Ibu cyntia memanggil salah satu santriwati. “oh iya bu mana anak ibu? Saya antarkan kekamarnya.” Ucap santriwati dengan sopan. “cyntia sekarang kamu lihat kamar kamu terlebih dahulu.”.Perintah ibu. “ibu tunggu di aula” cyntia hanya mengangguk. “ ayo ukhti” ajak santriwati kepada cyntia. “ Nama kamu siapa?” tanya cyntia di tengah-tengah perjalananny “nama ana zia” “nama aku cyntia, kamu sudah berapa lama disini?.“ana jalan 4 tahun disini”. Jelas zia. Tanpa diduga mereka pun sudah tampak akrab. Sesampainya dikamar ternyata di dalam terdapat beberapa santriwati.”Assalamua’alaikum akhwat, afwan ini ada santri Bru yang bernama Cyntia Az zahra tolong kasih dia lemari baju yang kosong, dan perkenalkan nama antunna”. Ucap zia kepada teman lamanya itu. “nama ana rini ucap ukhti berkaca mata”.

“nama ana nung”.ucap ukhti yang agak tinggi dan seram. “nama ana syifa”. Ucap ukhti yang sangat lembut. “perkenalkan nama saya Cyntia Az zahra mudah mudahan kalian menerima saya sebagai teman.” Ucap cyntia hati-hati. “ oh iya kamar kamu disini dan lemari kamu disebelah pojok sana.” Jelas zia sambil menunjuk ke arah lemari tersebut. “ makasih, oh iya ukhti afwan saya harus kembali ke aula disana orangtua saya menunggu dan saya pun belum membereskan barang-barang saya dimobil.” Ucap cyntia.

cyntia setengah berlari meninggalkan kamar dan teman-temannya itu menuju aula. Sampai ditengah perjalanan ia berhenti seketika karna dia tidak tau dimana aula tersebut. Lalu Tia pun bertanya kepada salah satu santriwati. “ukhti aula putri dimana ya?.” “tuh dibelakang”. Cyntia menoleh ke belakang dan ia pun hanya cengir. “oh makasih ukhti, afwan.” Cyntia terlihat bingung saat melihat betapa banyak orangtua di aula putri. Dan ia melihat ayah dan ibunya melambaikan tangan. “ oh itu.”gumam cyntia.

“kok kamu lama sekali nak?.” Tanya ibunya heran, cyntia pun hanya nyegir kuda. “tadi cyntia berkenalan dulu sama teman baru cyntia, ternyata orangnya asik dan ramah bu.” Tutur cyntia. Ayah dan ibunya hanya tersenyum senang “ayah dan ibu akan segara pulang, kamu bereskan barang-barang mu menuju kamarmu!.” Ucap ayahnya.

PCyntia sedih ia hanya bisa mengangguk dan matanya yang berkaca-kaca. “ pesan ibu dan ayah kamu belajar yang rajin dan tidak main-main buat ibu dan ayah bangga akan prestasimu.” Ucapan ibunya membuat cyntia meluapkan air matanya. Tak terasa sebulan sudah sebulan ia di pondok. “ Tia di panggil Ust.Habsyi di kantor di suruh antarkan kopi.” Kata zia. “oke zia” “syukron.”

Ketika ingin mengantar kopi, tiba-tiba ada salah seorang memanggil santri cowo itu. “maulana mau kemana?.” Tepat dibelakangnya ia tau kalau itu Bobi. “Mau kerumah abuya, tadi beliau manggil ana.” Kata cowo itu. “oh ternyata namanya Maulana.” Gumamnya dalam hati. Sesampai di kantor tia melihat Ust.Habsyi sedang mengetik di laptopnya. “Assalamu’alaikum Ust ini kopinya.”. “Alaikumussalam, oh iya makasih ukhti.” Jawab ust tanpa melirik cyntia. Hari demi hari tia menjalankan aktifitas sehari-harinya tia tak menyangka sudah 3 tahun lama nya tia bisa bertahan sampai saat ini.

Tepat dimana hari yang sangat membahagiakan melakukan kegiatan terakhir yaitu wisuda.. yang sudah tia lewati berbagai macam ujian dan rintangan seperti: Tahfidz, Paper, Tadris, Khutbatulwada. Dan inilah puncaknya, tak disangka cyntia mendapatkan kategori santri teladan, dan cowo itu( Maulana) ia santri yang mendaoat nilai-nilai tertinggi, “Saya harap kalian bisa membawa nama baik pesantren ini.” Ucap abuya pada semua santri, ekspresi santriwan/wati senang dan sedih.

Acara wisuda pun selesai, “ eh ente mau kuliah dimana?. Tanya maulana kepada andra. “ana pengen kuliah di UIN.” “ente mau kuliah dimana na?.” Tanya andra balik. “masih belum tau” jawab maulana yang masih bingung, tiba-tiba salah satu temannya mengabarkan berita. “antum dipanggil abuya segera!.” Ucap isro memerintah pada Maulana, Andra, Bobi, dan kawan yang lain. “ngapain sro?.” Tanya maulana.

“engga tau tuh abuya.” Jawab isro, lalu mereka pun pergi bersama-sama. Sesampai dirumah abuya, ternyata bukan hanya santriwan saja yang dipanggil ,santriwatinya oun juga dipanggil. “Abuya mengumpulkan kalian ingin memberi kabar kepada kalian, yaitu diantara kalian akan ada yang mengabdi dipondok ini, hanya ada 5 orang terpilih yang abuya sudah tentukan. Para santriwan dan santriwati tegang mendengar ucapan abuya. “ diantaranya Cyntia, Maulana, Rafli, Zia, dan Rini, selamat buat kalian terpilih.

Khusus untuk maulana dan cyntia kalian menjadi staf dipondok ini.” Perkataan abuya sontak membuat para santri bersorak secara serempak, “ ciye..ciyee.. kiww..kiww.” yang membuat mereka tersipu malu. “Ada apa? Apa kalian ada hubungan?” “tidak abuya kami tidak punya hubungan apa-apa.” Jelas Maulana. “oh baiklah…” sekarang kalian boleh bubar, terkecuali Maulana dan Cyntia, “kayanya abuya pengen menjodohkan kalian berdua”ledek andra. “Lihat saja angkatan diatas kita kan ada yang dijodohi Abuya.” Lanjut Bobi. “oh iya-ya” seketika maulana mengingat seperti Ust toyyib danUsth. Khodijah. “Kita pergi dulu ya nak,”Maulana,Cyntia Abuya ingin berhadapan dengan orangtua kalian. Ketika kedua orangtua Maulana dan cyntia telah berada dirumah abuya.

Mereka tampak bercakap-cakap serius sesekali bercanda. Maulana dan Cyntia hanya diam mematung “ternyata bener ana akan dijodohin abuya”.kata maulana dalam hati. “ini semua tak diduga, apa semua ini hanya mimpi pria idaman yang aku dambakan akan menjadi teman hidup ku, dan anehnya ini dijodohkan langsung oleh abuya.” Gumam cyntia. “saya mah tergantung anak saja pak kiyai, kalau dia mau ya alhamdulillah, kalau tidak saya tidak bisa memaksakannya.” Jelas ayahnya cyntia. “apakah kamu mau nak? Tanya ayah cyntia kepada cyntia. “saya tau pilihan abuya tidak salah”.pikir cyntia. Sebenarnya tia ingin berkata begitu tetapi dia malu, dia hanya menjawab dengan anggukan kepala dan wajahnya merah pada saat itu. “alhamdulillah, dipihak perempuan telah memerima, bagaimana dipihak lelaki? Tanya abuya antusias. “et dah abuya ada ada saja sekarang kan bukan zamannya situ nurbaya.” Celoteh maulana dalam hati. Akhirnya maulana ambil nafas dalam-dalam semoga ini keputusan yang terbaik. “ya samaa mau.” Ketika ucapan itu terlontar tanpa disadarkan cyntia tiba-tiba memeluk ibunya dengan erat. Setelah pertemuan tadi cyntia tampak senang, dan maulana kebalikannya ia murung hendak protes tetapi tidak bisa, dan ketika kedua orangtua cyntia dan maulana telah akrab mereka pun memutuskan untuk pulang. “yasudah nak bapak pulang dulu soal perjodohan tadi gak usah dipikirkan!.” Ucap bapak maulana. Sesampai dikamar andra langsung menyambar maulana dengan pertanyaan meledeknya. “cie cie calon pengantin, benarkan apa kata ana.” Sudah jangan dibahas lagi ana malas.” Ucap maulana. Tampak berbeda dengan cyntia dikamar.

“Alhamdulillah do’a ku terkabulkan zia.” Ucap cyntia dengan nada riang. “ada apa ti?” tanya zia. “aku dijodohin dengan maulana.” “hahh demi apa?” zia, syifa, rini kaget dan bertanya secara serempak. “beneran, aku dijodohin, aku tak percaya dengan semua ini apa semua ini hanya mimpi?, skenario Allah memang indah yang kadang tanpa kita sangka-sangka.” Jelasnya dengan rasa penuh syukur. 4 tahun kemudian.

Di hari ini Allah menjadi saksi dua insan yang sedang berbahagia diatas pelaminan, sedang menyambut para tamu yang berdatangan, “kayanya itu deh temen-temen kita para alumnus datang dengan pakaian kompak.” Yang banin memakai kemeja hijau toska yang dimasukkan kedalam sarung dengan jas kebanggaan angkatannya dan sedangkan yang banat menyerasikan warna gamisnya dengan kemeja para banin, perpauan dengan jas. “wihh penganten baru bikheir.” Budi menyeloteh kepada maulana.”

“jadi ini mah malam pertama na.” Jagat menyusl celotehan budi, mereka pun foto bersama. 2 tahun kemudian yang akhirnya cyntia melahirkan anak kembar lelaki&perempuan, yang diberikan nama hasan untuk yang lelaki, dan yang cewe diberikan nama hasanah. Lengkap sudah kebahagiaan mereka dengan dikaruniai anak kembar yang lucu.

#Akbar Maulana santriwan asal Bekasi, kelas V Muallimin, salah satu anggota Redaksi Qolami.