Dalam perjalanan hidup, ada masa ketika hati terasa sempit, langkah terasa berat dan jalan keluar seakan tertutup dari segala arah, masalah datang bertubi-tubi sementara kekuatan diri semakin menipis pada titik seperti itu, manusia sering menyadari satu hal penting bahwa tidak semua kesulitan bisa diselesaikan dengan logika, tenaga atau kemampuan sendiri. Ada saatnya hati harus kembali bersandar sepenuhnya kepada Allah.
Para ulama dan orang-orang shalih sejak dahulu telah mewariskan amalan-amalan sederhana namun dalam maknanya, sebagai penopang jiwa ketika berada di masa sulit, di antara amalan tersebut adalah wirid yang diajarkan oleh Habib Muhammad bin Abdullah Al-Haddar dan Habib Abdul Qodir bin Ahmad Assegaf, yang dibaca sebanyak 350 kali setiap hari, sebagai bentuk pengakuan total akan kelemahan diri dihadapan kekuasaan Allah, lafaz yang dibaca adalah:
لَيْسَ لَهَا مِنْ دُوْنِ اللَّهِ كَاشِفَةُ
“Tidak ada yang dapat mengungkapkan dan menghilangkan kesulitan itu kecuali Allah.”
Kalimat ini bukan sekadar bacaan lisan, itu adalah pengakuan batin sebuah pernyataan jujur bahwa manusia tidak memiliki kuasa mutlak atas hidupnya bahwa secerdas apapun seseorang, setinggi apapun kedudukannya, tetap ada masalah yang hanya bisa diselesaikan oleh Allah semata, dengan mengulang kalimat ini, seorang hamba sedang melatih hatinya untuk berhenti bergantung pada makhluk dan mulai kembali bergantung penuh kepada sang Khalik.
Membaca amalan ini 350 kali bukan tentang angka semata melainkan tentang proses, setiap pengulangan adalah latihan sabar, setiap lafaz adalah ketukan lembut pada pintu langit, bisa jadi kesulitan tidak langsung hilang tetapi hati menjadi lebih kuat untuk menghadapinya dan sering kali, itulah pertolongan pertama yang Allah berikan hati yang lapang sebelum jalan keluar benar-benar terlihat.
Kesulitan sering kali terasa berat bukan semata karena masalahnya, tetapi karena hati terlalu sibuk berharap pada sebab-sebab duniawi, ketika harapan itu runtuh, jiwa pun ikut goyah maka wirid ini hadir untuk meluruskan kembali arah sandaran hati bahwa tidak ada pembuka kesulitan selain Allah, prinsip ini selaras dengan firman Allah SWT :
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)
Ayat ini mengajarkan bahwa kecukupan sejati bukan terletak pada banyaknya jalan keluar yang terlihat, tetapi pada seberapa dalam tawakal seorang hamba kepada Allah. Tawakal bukan berarti menyerah tanpa usaha, melainkan bekerja semampunya lalu menyerahkan hasilnya dengan penuh kepercayaan kepada Allah, ketika tawakal hadir, hati menjadi lebih tenang karena ia yakin bahwa Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya berjalan sendirian dalam kesulitan.
Membaca wirid ini setiap hari juga melatih kesabaran dan keistiqamahan, dia mengajarkan bahwa pertolongan Allah sering kali datang bukan secara tergesa tetapi tepat pada waktunya. Ada kesulitan yang diangkat, ada yang diperingan dan ada pula yang dibiarkan sejenak agar hati tumbuh lebih kuat dan dekat kepada-Nya, kadang Allah tidak langsung mengubah keadaan tetapi terlebih dahulu mengubah hati, dari gelisah menjadi tenang, dari putus asa menjadi berharap, dari mengeluh menjadi berserah dan perubahan hati itulah awal dari perubahan keadaan.
Amalan ini menjadi pengingat lembut bahwa seberat apapun hidup terasa, selalu ada Allah yang maha Membuka, selama seorang hamba masih mau mengetuk pintu-Nya dengan rendah hati, tidak ada kesulitan yang benar-benar tertutup karena sebenarnya, di balik setiap kesempitan, Allah sedang menyiapkan kelapangan dengan cara-Nya, pada waktu-Nya dan dengan hikmah terbaik-Nya.