Dulu, aku adalah pemimpi
Ragaku bergerak karena masa depan
Nafasku berhembus karena oksigen harapan
Tidurku nyaman karena esok ada mimpi
Yang akan masuk dalam jaringku...
Hari ini, aku adalah separuh jiwa
Yang kemudian disatukan karena cinta
Tentang mimpi aku pasrah, kulempar saja ke udara
Hatiku jatuh, mimpiku entah hinggap di mana...
Bersama dia, aku hidup setiap saat
Bukan lagi berharap nanti atau esok
Bukan lagi berharap mimpi yang tak pasti
Impianku hanyalah
Setiap ketuk di dadaku selalu ditemani dia...
Aku belajar tenang di tengah badai
Belajar kuat tanpa banyak bertanya
Sebab namanya tak pernah absen dari doaku
Dan kehadirannya cukup jadi jawabnya...
Jika suatu hari langkahku goyah
Aku tak lagi mencari arah pada dunia
Cukup satu genggaman yang tak pergi
Itu sudah menjadi pulang bagiku...
Maka bila kelak usia menua bersama waktu
Aku tak meminta kisah yang sempurna
Asal namaku dan namanya sebaris dalam takdir
Hanyalah dia, hingga akhir cerita...