Dalam perspektif Islam, kezaliman (zhulm) adalah konsep yang luas dan mendalam, ia tidak terbatas pada kekerasan fisik atau penindasan yang tampak kasat mata, tetapi mencakup segala bentuk penyimpangan dari kebenaran dan keadilan yang telah Allah SWT tetapkan. Kezaliman dapat terjadi ketika hukum Allah diabaikan, hak-hak manusia dilanggar serta ketika kekuasaan digunakan secara sewenang-wenang sehingga keadilan kehilangan maknanya.
Pelanggaran terhadap hak Allah SWT merupakan bentuk kezaliman yang paling mendasar, hal ini terjadi ketika manusia menolak atau mengesampingkan hukum-hukum Allah dalam mengatur kehidupan. Allah SWT menegaskan dengan jelas:
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Siapa saja yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang Allah turunkan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 45)
Ayat ini menunjukkan bahwa kezaliman tidak hanya berkaitan dengan perilaku individu tetapi juga erat hubungannya dengan sistem hukum, kebijakan dan tata kelola kekuasaan.
Selain itu, kezaliman juga terwujud dalam pelanggaran terhadap hak-hak manusia seperti perampasan hak hidup, kebebasan, keamanan dan martabat. Kezaliman jenis ini dapat dilakukan oleh individu, kelompok bahkan oleh negara dan kekuatan politik, ketika kekuasaan digunakan tanpa keadilan, hukum tidak lagi berfungsi sebagai pelindung melainkan berubah menjadi alat legitimasi kepentingan dan penindasan.
Islam tidak hanya melarang perbuatan zalim, tetapi juga melarang sikap condong, mendukung, atau membenarkan kezaliman. Allah SWT memberikan peringatan keras:
وَلَا تَرۡكَنُوٓاْ إِلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ فَتَمَسَّكُمُ ٱلنَّارُ
“Janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang zalim, yang menyebabkan kalian disentuh oleh api neraka.” (QS. Hud [11]: 113)
Ayat ini menegaskan bahwa kezaliman tidak hanya dilakukan oleh pelaku utama, tetapi juga oleh mereka yang memilih diam, bersikap lunak atau memberikan pembenaran atas kezaliman tersebut, dalam pandangan Islam, netralitas terhadap kezaliman bukanlah sikap yang selamat secara moral.
Karena itu, setiap bentuk kezaliman termasuk kezaliman yang dilakukan secara sistemik dan global harus dinilai dengan standar keadilan Islam, bukan dengan narasi politik yang dibungkus istilah menenangkan seperti “perdamaian”, namun hakikatnya menyembunyikan ketimpangan dan penderitaan. Islam mengajarkan kewaspadaan kritis agar umat tidak terjebak dalam ilusi moral yang dibangun oleh kekuatan zalim. Sikap Islam terhadap kezaliman bersifat tegas dan prinsipil. Allah SWT berfirman:
وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ
"Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 57)
Penegasan ini menunjukkan bahwa kezaliman bukan sekadar kesalahan sosial, tetapi juga dosa besar yang bertentangan dengan kehendak Allah SWT. Dalam menghadapi realitas kezaliman yang meluas, Islam menekankan pentingnya persatuan umat. Persatuan bukan sekadar simbol atau slogan melainkan kekuatan moral dan strategis agar umat Islam tidak terus berada dalam posisi lemah dan terpecah. Allah SWT memerintahkan:
وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُواْ
“Berpeganglah kalian semuanya kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 103)
Persatuan ini bertujuan agar umat Islam mampu berdiri sebagai pembela keadilan, penjaga nilai kemanusiaan dan penolak segala bentuk kezaliman dimanapun dan oleh siapa pun kezaliman itu dilakukan. Dengan kesadaran, keteguhan prinsip, dan keberanian moral, umat Islam dituntut untuk tidak sekadar mengecam kezaliman tetapi juga menolak untuk menjadi bagian darinya, sekecil apapun bentuknya.
Menolak kezaliman tidak selalu berarti mengangkat senjata atau berada di garis depan konflik. Namun ia selalu dimulai dari keberanian menjaga sikap, lisan dan hati tidak membenarkan yang salah, tidak menormalisasi ketidakadilan serta tidak ikut larut dalam narasi yang memutihkan kezaliman. Diam yang disengaja, pembiaran yang nyaman, atau sikap “asal aman” sering kali menjadi celah di mana kezaliman terus hidup dan tumbuh.
Islam mengajarkan bahwa keadilan adalah amanah dan amanah itu kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT karena itu, berpihak kepada kebenaran bukan sekadar pilihan moral tetapi konsekuensi iman, semoga Allah menjaga hati kita agar tetap peka terhadap kezaliman, menguatkan langkah kita untuk selalu berada di sisi keadilan dan menjauhkan kita dari sikap condong kepada kebatilan sekecil apapun bentuknya. Sebab di hadapan Allah, bukan seberapa kuat kita, melainkan seberapa jujur kita berdiri di atas kebenaran.