“والأسد لولا فراق الغابي ماافترست والسهم لولا القوس لم يصب”

(Seekor singa akan mendapatkan buruannya jika meninggalkan tempatnya. Dan anak panah akan bisa mengenai sasarannya jika lepas dari busurnya)
Apa bedanya ikan yang  hidup di arus yang deras dengan ikan yang hidup di kolam yang airnya tenang. ikan yang hidup di arus yang deras lebih tangguh dan kuat karena terbiasa menghadapi berbagai tekanan arus. berbagai rintangan yang harus dihadapi oleh ikan-ikan laut seperti tergambar dalam film “Finding Nemo”. digambarkan betapa makhluk-makhluk didalam laut  mempunyai banyak tekanan dan rintangan yang harus dilalui yang membuat mereka masing-masing harus mempertahankan diri dengan baik jika ingin terus selamat, Nemo yang hilang dari laut lepas yang di tangkap oleh penyelam dan di bawa ke kota Sidney. (jadi ngomongin filmkan Hehehehe…..).
Hampir semua makhluk hidup mempunyai mekanisme pertahan diri yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Seperti seekor ular yang mempunyai bisa yang digunakan untuk mempertahankan diri dari pihak lain. Seekor kuda mempunyai empat kaki yang kuat dan tangguh yang bisa digunakan untuk mempertahankan diri dari berbagai ancaman baik dari depan maupun dari belakang.
Walaupun secara naluriah binatang mempunyai mekanisme pertahanan dan kekuatan yang mampu di gunakan sebaik-sebaiknya, namun jika kekuatan itu tidak digunakan dengan baik maka kekuatan itu tidak bisa keluar. Hal itu sama dengan potensi manusia, jika tidak “Dipaksa” untuk keluar, maka potensi itu juga tidak akan bisa keluar.
Ada sebuah kisah mungkin juga sudah sering kita dengar, tentang seekor gajah yang sedari kecil diikat seutas tali kecil. sang gajah memberontak. Tapi, karena dia kecil maka tali tersebut kuat untuk menahan berat tubuhnya yang kecil. Lambat laun gajah itu tumbuh besar. Tali yang digunakan masih tetaplah sama tali kecil yang dulu digunakan. Gajah itu sebenarnya memiliki kekuatan besar untuk keluar dari ikatannya. Tapi karena ia terbiasa diikat sejak kecil dan saat ia mencoba keluar dari ikatan tidak mampu, maka hingga besarpun ia merasa bahwa ikatan itu terlalu kuat dan membuatnya tidak mau mengeluarkan kekutan yang dimilikinya.
Peristiwa itu terjadi karena si gajah jarang mempunyai tantangan berat karena setiap hari selalu dimanjakan dengan makanan dan minuman yang telah di siapkan oleh pelatihnya. akibatnya, kemampuan yang dimilikinya tidak pernah di manfaatkan secara maksimal. Lebih celaka lagi, terjebak pada pengalaman masa lalu (belom bisa move on kali yaaaa…..) bahwa ia tidak mempunyai kekuatan yang besar untuk keluar dari tekanan dan rintangan. Sama halnya dengan manusia,  jika seseorang tidak  pernah mengalami berbagai kesulitan dan tekanan hidup, ia tidak akan pernah belajar mengembangkan diri dan bertahan hidup. Tekanan hidup mengajarkan untuk bisa mengeluarkan seluruh potensi yang kita miliki dengan maksimal.
Bahkan, terkadang manusia mesti dijebloskan terlebih dahulu dalam sebuah tekanan yang besar, mesti dijatuhkan pada kondisi yang paling terpuruk. Keterpurukan yang mendalam akan menimbulkan energi yang sangat luar biasa untuk bangkit. Seperti seorang santri yang mendapat PK (Pekerjaan Kamar) dari bapak matematika, lalu ia tidak mengerjakannya di kamar karena ia tidak memiliki potensi untuk menyelesaikan tugas tersebut. Keesokan harinya ada pelajaran matematika, karena bapak matematika terkenal sangat sensitif pada murid yang tidak melaksanakan tugas. Pada akhirnya hari itu juga, saat itu juga, pada jam itu juga,  pada menit itu juga ia harus menyelesaikan tugasnya yang dalam kondisi biasa akan sulit ia lakukan. justru saat manusia terdesak, dihadapkan pada kesulitan yang sangat dalam, biasanya timbul kreativitas akan timbul  dari berbagai kesulitan tersebut.
Berbagai tekanan dan cobaan dalam hidup tidak boleh membuat kita lemah dan pasrah dengan keadaan, hingga menyebabkan kehilangan harapan dan putus asa seperti pesimisme. Tugas kita bagaimana membuat semua keterpurukan dan tekanan itu sebagai sumber energi yang dahsyat untuk segera membalikan keadaan menuju hal yang lebih baik.
Orang yang sedang jatuh atau terpuruk justru harus berpikir dan bekerja jauh lebih keras dari sebelumnya dibandingkan dengan orang yang kondisinya normal. tidak perlu putus harapan, biasanya orang-orang yang dalam kondisi tertekan, akan mampu mengeluarkan potensi yang tidak terduga yang sebelumnya tidak terlihat. Keterpurukan dan kejatuhan, memaksa kita untuk berpikir lebih kreatif, syukuri itu, dan manfaatkanlah menjadi batu loncatan dan momentum untuk melesat jauh lebih maju di masa mendatang.
Akan tetapi perkara seperti itu sudah tak asing lagi bagi kalangan santri, yang terbiasa hidup jauh dari orang tua. Menghafal sudah menjadi makanan, membaca al qur’an sudah menjadi adat bukan kebiasan. Yang di cetak sebagai mundzirul qoum di kalangan masyarakat bukan menjadi sampah masyarakat yang selalu membuat kekacauan.  
#Al-Fazari santri wan asal Bekasi, anak kelas 5 Muallimin merupakan santriwan Al-Hidayah Al-Mumtazah