MODEL PEMIMPIN

Sewaktu Abu Bakar R. A terpilih menjadi khalifah yang pertama dalam dunia islam, ia berpidato dalam pelantikannya itu sebagai berikut:

“Wahai manusia! Sesungguhnya aku telah dipilih untuk memegang kekuasaan atasmu, padahal aku bukan yang terbaik diantara kalian, maka jika aku berlaku baik (dalam menjalankan kekuasaan) banyulah aku, tetapi jika aku salah betulkanlah. Kejujuran adalah amanah, dusta adalah khianat. Barangsiapa yang lemah diantara kalian akan bagiku, sehingga aku kembalikan haknya (dari tangan orang lain yang memegangnya) Insya Allah. Barangsiapa yang kuat diantara kalian akan lemah berhadapan dengan sehingga aku ambil hak orang lain dari tangannya. InsyaAllah. Taatilah aku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya, apabila aku mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, tidak ada atas kalian wajib taat kepadaku”.

Pidato yang diucapkan Abu Bakar ketika dia dibai’at sebagai Khalifah pengganti Rasulullah seperti dikutip diatas, sering dibicarakan orang yang ingin memasuki pembahasan tentang kepemimpinan dalam islam. Demikian pula dengan Firman Allah sebagai berikut:

فذكر إنما أنت مذكر

“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalahorang yang memberikan peringatan” (Q.S.88/Al-Ghaasiyah: 21)

Masalah pemimpin dalam islam merupakan salah satu masalah gampang-gampang sulit. Gampang, karena pada hakikatnya setiap orang menurut ajaran islam adalah pemimpin. Suami dalam rumah tangga menjadi pemimpin terhadap istri dan anak-anaknya. Seorang istri pun berfungsi sebagai pemimpin, memelihara kehormatannya sendiri dan menjaga milik suaminya. Dalam pendidikan anak justru peranan istri lebih dominan daripada suami yang sering tidak dirumah. Namun pemimpin secara luas, dalam artian pemimpin ummat dan dalam birokrasi lebih sulit. Pemimpin dalam konteks ini bisa terdiri dari pemimpin informal dan formal. Para pemimpin informal yakni pemimpin yang tidak memerlukan surat pengangkatan, sebaliknya pemimpin formal adalah pemimpin yang diangkat dan dikukuhkan. Pemimpin informal menjadi pemimpin, karena didaulat oleh masyarakat, atas dasar adanya kelebihan-kelebihan tertentu dari orang yang menjadi idola mereka, mislanya kelebihan:

1. Memiliki wibawa yang besar, 2. Teguh pendirian, 3. Mampu memberikan petunjuk dan teladan kepada ummat, 4. Berakhlak mulia, 5. Tidak mudah terkecoh oleh kemilaunya kedudukan dan harta, 6. Rela berkorban untuk membela kebenaran agama Allah, 7. Hidup sederhana, 8. Ramah kepada semua orang serta tidak suka menjilat untuk memperoleh kemudahan duniawi.

Lebih dari semua yang disebutkan itu, dapat dicatat bahwa seorang pemimpin informal itu terbuka untuk menerima kritik dan nasihat dari pihak lain. Hal ini karena filsafat kepimimpinan dalam islam harus mau dikritik dan diberi peringatan, sebab dengan kritik saran dan peringatan itulah ia dapat menjalankan kepemimpinannya secara bertanggung jawab dan efektif.