Jatuh cinta memang manis, apalagi ketika yang membuat hati bergetar bukan sekadar manusia, melainkan Dia yang menciptakan rasa itu sendiri, dalam perjalanan iman, ada satu fase ketika kita menyadari bahwa Al-Qur’an bukan hanya kitab hukum, bukan pula sekadar bacaan ritual yang dilantunkan dengan suara merdu, dia adalah “tali” yang menjulur dari langit ke bumi, penghubung antara hamba dan Rabb-nya. Allah berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103)
Tali itu adalah Al-Qur’an, jika Nabi Adam ‘alaihissalam pernah merasakan nikmatnya berbicara langsung dengan Allah di surga, maka kita umat akhir zaman diberi nikmat berupa wahyu yang terjaga, setiap ayat yang kita baca adalah sapaan, setiap larangan adalah bentuk penjagaan, setiap perintah adalah arah agar kita tidak tersesat, menjalankan petunjuk Al-Qur’an berarti memegang erat tali tersebut agar tidak terlepas di tengah derasnya arus dunia sebab pada akhirnya, kita semua sedang berjalan pulang.
Dunia ini ibarat kampus besar, kita diberi fasilitas yang luar biasa seperti matahari yang terbit tanpa diminta, udara yang gratis untuk dihirup, tubuh yang sempurna dengan sistem yang tak pernah kita desain sendiri, jantung berdetak tanpa kita perintah, mata berkedip tanpa kita sadari. Semua itu adalah “fasilitas” kehidupan, maka logikanya sederhana jika ada fasilitas, tentu ada aturan main. Syariat bukanlah belenggu, melainkan kurikulum agar kita lulus dengan nilai terbaik.
Allah tidak menurunkan aturan untuk menyulitkan, melainkan untuk menyelamatkan tanpa panduan, manusia mudah tersesat oleh hawa nafsunya sendiri dia bisa merasa merdeka, padahal sejatinya sedang diperbudak oleh keinginan, syariat justru membebaskan kita dari perbudakan makhluk, agar hanya tunduk kepada Sang Khalik.
Ketika kita merenungi penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang serta misteri kehidupan dalam rahim seorang ibu, hati yang jernih akan bergetar, Allah menggambarkan orang-orang yang berpikir mendalam sebagai Ulul Albab:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang berakal; (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring.” (QS. Ali Imran: 190–191)
Menjadi Ulul Albab bukan sekadar cerdas secara intelektual, tetapi mampu melihat “jejak-jejak” cinta Allah dalam setiap detail kehidupan, ilmuwan sehebat apa pun belum mampu menciptakan satu nyawa dari ketiadaan. Dari setetes air hina, lahirlah manusia dengan potensi akal dan rasa, bukankah itu cukup untuk membuat kita jatuh cinta?
Namun cinta harus dijaga. Dalam Surat At-Tin, Allah mengingatkan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk terbaik, ahsani taqwim namun bisa jatuh ke tempat yang paling rendah jika ia mengingkari Penciptanya, potensi kemuliaan itu bisa runtuh ketika hati menjauh dari wahyu, iman dan amal saleh adalah jangkar agar kapal kehidupan tidak karam di lautan godaan.
Al-Qur’an diturunkan bukan hanya sebagai Al-Furqan pembeda antara benar dan salah tetapi juga sebagai cahaya yang menyalakan kembali api cinta dalam dada, ia mengajarkan bahwa tujuan hidup bukan sekadar bertahan, melainkan kembali. Kembali dengan hati yang bersih dengan jiwa yang rindu.
Sebagaimana diriwayatkan dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, yang terpenting bukan hanya apakah doa kita dikabulkan, tetapi bagaimana kita tetap terhubung dengan Allah, sebab dalam keterhubungan itulah letak kebahagiaan sejati. Doa menjadi dialog, sujud menjadi pelukan spiritual dan tilawah menjadi surat cinta yang dibaca berulang-ulang.
Maka Al-Qur’an bukan hanya teks, dia adalah komunikasi juga jembatan yang menghubungkan bumi dengan langit, Al-Qur'an adalah surat cinta dari Allah agar kita tidak tersesat dalam perjalanan pulang, ketika kita membacanya dengan hati yang hadir, kita sedang menjawab panggilan-Nya dan disanalah cinta itu tumbuh bukan cinta yang rapuh oleh waktu, tetapi cinta yang menuntun langkah hingga kembali ke haribaan-Nya.