Di sudut senja yang berwarna jingga,
gamelan berdenting lirih di pendopo tua,
nadanya mengalun pelan dan setia,
menjaga warisan dari masa yang lama.
Namun di tangan generasi muda,
gawai menyala tanpa jeda,
layarnya terang menggoda mata,
membuka dunia dalam sekejap saja.
Di antara bunyi saron dan notifikasi,
ada hati yang sedang mencari arti,
antara tradisi yang ingin dipahami,
dan teknologi yang terus berlari.
Gamelan mengajarkan sabar dan rasa,
setiap ketukan punya jiwa,
tak bisa tergesa, tak bisa dipaksa,
harmoni lahir dari kebersamaan nyata.
Gawai menghadirkan luasnya dunia,
ilmu dan kabar dalam genggaman,
ia bukan musuh budaya,
jika bijak menjadi pegangan.
Di antara keduanya kita berdiri,
bukan memilih lalu meninggalkan,
melainkan merajut masa kini,
tanpa memutus akar kebudayaan.
Biarlah gamelan tetap berdentang,
mengisi ruang dengan kearifan,
dan gawai menjadi jendela terang,
untuk melangkah tanpa kehilangan.