Ada saatnya seseorang berhenti sejenak di tengah kesibukan hidup, lalu bertanya dalam diam sebenarnya kemana hati ini ingin kembali? Di tengah ambisi, rencana dan ujian yang datang silih berganti, ada kerinduan yang tidak bisa dibohongi, itulah yang disebut hati yang ingin pulang. Makna 'Hati yang ingin pulang' setidaknya ada dua.
Pertama, hati yang ingin pulang karena Allah, hati merasa rindu kepada Penciptanya, ia lelah menjadikan dunia sebagai tujuan utama, ia sadar bahwa sejauh apapun melangkah akhirnya semua akan kembali kepada-Nya, pulang di sini bukan sekadar tentang kematian tetapi tentang kembali dalam ketaatan, kembali dalam sujud, kembali dalam doa yang tulus. Hati ini mulai merasakan bahwa ketenangan sejati bukan pada banyaknya harta atau pujian, melainkan pada kedekatan dengan Allah.
Kedua, hati yang ingin kembali pada fitrah, kita lahir dalam keadaan bersih, tidak membawa dendam, tidak membawa kesombongan, tidak membawa dosa namun perjalanan hidup sering membuat hati tergores oleh kesalahan dan kelalaian. Maka pulang berarti kembali menjadi diri yang jujur, lembut dan tunduk sebagaimana awal penciptaan kita. Allah berfirman:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَىٰ
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap diri mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami).’” (QS. Al-Qur'an, Al-A’raf: 172)
Ayat ini mengingatkan bahwa sebelum hadir di dunia, kita pernah bersaksi tentang keesaan Allah. Maka ketika hati terasa kosong, mungkin ia sedang merindukan janji itu, janji tauhid yang pernah diucapkan, Allah juga berfirman:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. Al-Qur'an, Ar-Rum: 30)
Fitrah itu suci, fitrah itu lurus dan hati yang ingin pulang adalah hati yang ingin kembali pada kelurusan itu namun perjalanan pulang tidak terjadi begitu saja dia membutuhkan penjagaan, ada empat hal yang harus dijaga agar hati tetap berada di jalur kepulangan:
1. Jaga iman. Iman adalah kompas tanpanya, hati mudah terseret arus dunia, iman perlu dirawat dengan ilmu, dzikir dan lingkungan yang baik
2. Jaga waktu. Waktu adalah amanah paling berharga, banyak orang ingin berubah tetapi menunda-nunda. Padahal hidup berjalan tanpa menunggu kesiapan kita, hati yang ingin pulang tidak menunggu sempurna untuk kembali ia mulai sekarang.
3. Jaga pergaulan (circle). Lingkungan sangat mempengaruhi arah hati, berteman dengan orang yang mengingatkan pada Allah akan memudahkan langkah sebaliknya, lingkungan yang lalai bisa membuat hati semakin jauh dari tujuan.
4. Jaga tuma’ninah (ketenangan hati). Ketenangan lahir dari keyakinan bahwa semua berada dalam kendali Allah, hati yang tenang lebih mudah menerima nasihat, lebih mudah bertaubat dan lebih mudah kembali.
Pulang kepada Allah bukan berarti kita tanpa dosa, justru kesadaran akan dosa itulah yang membuat kita ingin kembali, Allah tidak menilai bagaimana awal kita, tetapi bagaimana kita menutup perjalanan hidup ini, selama nyawa belum sampai di kerongkongan, pintu taubat tetap terbuka.
Maka jika hari ini hatimu terasa berat, mungkin itu tanda bahwa ia sedang ingin pulang, jangan abaikan panggilan itu, duduklah sejenak bersama diri sendiri. Akui kekurangan, mohon ampun dan perbarui niat karena pada akhirnya, tempat kembali kita bukanlah dunia yang sementara ini, melainkan Allah dan hati yang ingin pulang adalah hati yang sadar akan hal itu.