Mengapa Kita Sering Lupa Sya’ban?

 03 Februari 2026 Pukul 09:10 Pagi

Ada bulan yang selalu kita sambut dengan gegap gempita, ramadhan datang dengan target ibadah, jadwal kajian dan semangat perubahan, ada pula bulan yang sering disebut sebagai pembuka seperti Rajab, yang mengingatkan kita untuk mulai bersiap namun di antara keduanya, ada satu bulan yang kerap terlewat tanpa disadari, bulan Sya’ban. Ia hadir tenang, nyaris tanpa sorak, seakan hanya menjadi jembatan yang harus dilewati bukan ruang yang perlu disinggahi.


Padahal, justru di bulan inilah kejujuran iman sering diuji, sya’ban tidak menawarkan euforia, tidak ada kewajiban khusus yang memaksa. Ia datang saat manusia masih sibuk dengan dunianya, saat semangat ibadah belum sepenuhnya bangkit dan kelalaian masih terasa dekat, kita pun sering berkata dalam hati, “Nanti saja di Ramadhan.” Seolah-olah kebaikan harus menunggu waktu yang paling ramai dan terasa istimewa.


Rasulullah SAW justru memberi perhatian besar pada bulan yang sering dilupakan ini, ketika Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu bertanya mengapa beliau banyak berpuasa di bulan Sya’ban, Nabi Muhammad SAW menjawab:


ذَٰلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ


“Itu adalah bulan yang sering dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Pada bulan itu amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam, dan aku suka jika amalku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa.” (HR. An-Nasa’i)


Hadits ini mengungkap satu kenyataan penting, Sya’ban dilupakan bukan karena ia tidak bernilai, melainkan karena ia berada di antara dua bulan yang dianggap “besar”. Justru karena manusia lalai, ibadah di bulan ini memiliki makna yang lebih dalam. Amal yang dilakukan saat tidak banyak orang melirik sering kali lebih jujur, lebih dekat pada keikhlasan.


Mengapa kita sering lupa Sya’ban? Karena kita terbiasa menunggu puncak, tetapi enggan menata dasar, kita ingin Ramadhan yang penuh cahaya, namun lupa membersihkan hati sebelum cahaya itu datang, kita berharap perubahan besar, tetapi menunda langkah-langkah kecil. Sya’ban mengajarkan bahwa kesiapan tidak selalu lahir dari gegap gempita, melainkan dari kesadaran yang sunyi.


Sya’ban adalah bulan merapikan niat, sebelum niat itu diuji oleh rutinitas Ramadhan, bulan untuk berdamai dengan diri sendiri, memaafkan yang tertinggal dan melepaskan beban yang tidak perlu. Ia memberi ruang untuk bertanya dengan jujur, untuk siapa aku ini beribadah? Perubahan ini karena Allah atau karena ingin terlihat lebih baik dari tahun lalu? Apakah Ramadhan nanti hanya rutinitas tahunan, atau benar-benar perjumpaan dengan Allah? Di bulan ini, Rasulullah SAW tidak mencontohkan perayaan melainkan konsistensi, tidak mengajarkan riuh tetapi ketekunan, amal yang dilakukan perlahan namun dijaga.


Jika Ramadhan adalah musim panen, maka Sya’ban adalah waktu menyiapkan tanah, tidak ada panen yang baik dari lahan yang dibiarkan keras dan kering, hati pun demikian ia perlu dilunakkan dengan istighfar, disirami dengan doa dan dibersihkan dari dendam serta kesibukan yang berlebihan. Sya’ban memberi ruang untuk itu semua, tanpa tekanan, tanpa tuntutan selain kejujuran.


Sering kali kita lupa bahwa Allah tidak hanya melihat hamba-Nya saat ibadah ramai dilakukan, tetapi juga saat ia tetap taat di tengah kelalaian manusia. Sya’ban mengajarkan kita untuk mencintai kebaikan meski tidak disorot, untuk mendekat kepada Allah meski tidak ada yang menyaksikan.


Maka jika hari ini kita masih diberi kesempatan bertemu Sya’ban, jangan biarkan ia berlalu tanpa makna, tidak perlu menunggu sempurna mulailah dengan kesadaran kecil misalnya memperbaiki niat, menambah doa, melatih diri dengan amal sederhana, karena bisa jadi, Ramadhan yang penuh keberkahan lahir dari Sya’ban yang kita jaga dengan diam-diam dengan hati yang pelan-pelan disiapkan, agar kelak benar-benar siap pulang kepada Allah.

Subscribe Subscribe