Di banyak ruang sosial hari ini, bersuara sering kali menjadi perkara yang rumit, ketika seseorang mengajukan pertanyaan, memberi kritik atau menyampaikan pandangan yang berbeda, ia kerap dicap kurang adab, seolah-olah berpikir kritis adalah bentuk pembangkangan dan diam selalu dianggap sebagai tanda kesopanan padahal, antara adab dan keberanian berpikir, ada batas yang sering kali kabur karena salah paham.
Budaya kita memang menjunjung tinggi kesantunan namun dalam praktiknya, adab sering direduksi menjadi kepatuhan tanpa ruang dialog, kritik dianggap ancaman, pertanyaan dipersepsikan sebagai perlawanan dan perbedaan pandangan dinilai sebagai sikap tidak tahu diri. Akibatnya, banyak orang memilih diam bukan karena setuju tetapi karena takut dicap tidak beretika, di sinilah adab kehilangan maknanya, ketika ia digunakan untuk membungkam bukan membimbing.
Padahal, Islam tidak pernah memusuhi akal dan pertanyaan sejak awal, Islam hadir sebagai agama yang membangunkan kesadaran, Rasulullah SAW membuka ruang dialog, menerima pertanyaan bahkan dari orang-orang yang caranya kurang halus, dalam sebuah hadits beliau bersabda:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ
قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: لِلَّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُولِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
“Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin, dan seluruh umat Islam.” (HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa memberi nasihat, mengingatkan dan meluruskan adalah bagian dari agama itu sendiri. Bukan sikap lancang, bukan pula bentuk kurang adab, selama dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang terjaga, justru menutup ruang nasihat atas nama sopan santun bisa menjadi tanda matinya kepedulian.
Masalah muncul ketika kritik disampaikan tanpa akhlak atau sebaliknya, ketika adab dijadikan tameng untuk menolak kebenaran, kritik yang kasar memang melukai tetapi kebenaran yang ditolak hanya karena tidak nyaman juga berbahaya. Islam tidak mengajarkan kita untuk memilih antara adab atau kebenaran tetapi memadukan keduanya.
Di era digital, label “kurang adab” semakin mudah disematkan, satu pendapat berbeda bisa langsung dihakimi tanpa didengarkan padahal, masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang berani berdialog, kritik yang jujur adalah bentuk kepedulian, bukan permusuhan, pertanyaan yang tulus adalah tanda akal yang hidup, bukan tanda pembangkangan.
Menjadi kritis dengan adab berarti berani jujur tanpa menghina, tegas tanpa merendahkan dan berbeda tanpa merasa paling benar, sementara menuntut adab tanpa membuka ruang berpikir hanya akan melahirkan kepatuhan semu, orang terlihat patuh di luar tetapi gelisah di dalam.
Islam mengajarkan keseimbangan, adab menjaga lisan dan sikap sementara sikap kritis menjaga kebenaran agar tidak tenggelam, jika salah satunya dimatikan maka rusaklah keduanya. Adab tanpa kejujuran akan menjadi formalitas kosong dan kritik tanpa adab akan berubah menjadi luka.
Kritis tidak otomatis berarti kurang adab, yang benar-benar kurang adab adalah ketika kebenaran ditolak hanya karena ia terasa mengganggu, sebab masyarakat yang dewasa bukanlah yang sunyi tanpa suara, melainkan yang mampu berdialog dengan akal yang jernih dan hati yang lapang.