Menjaga Lisan, Menebar Kebaikan

 29 November 2025 Pukul 16:46 Sore

Hai teman-teman! Bulan lalu kita belajar tentang "Jangan Lelah Menjadi Santri", sekarang kita masuk ke tema baru yang nggak kalah penting yaitu : "menjaga lisan, menebar kebaikan". Tau nggak, lisan itu bukan cuma alat ngomong, tapi bisa jadi sumber kebaikan atau sebaliknya, sumber masalah. Makanya, yuk kita pelajari bersama bagaimana lisan kita bisa membawa manfaat, bukan mudharat.

Lisan atau mulut kita adalah anugerah luar biasa dari Allah SWT. Dengan lisan, kita bisa berkomunikasi, menyampaikan ilmu, menebar kebaikan, dan mempererat silaturahim. Namun, jika tidak dijaga, lisan juga bisa menjadi sumber fitnah, perselisihan, dan kebencian. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam."(HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, setiap kata yang keluar dari mulut kita harus dipikirkan dampaknya. Kata-kata yang kasar, sinis, atau merendahkan orang lain bisa melukai hati lebih dalam daripada luka fisik. Luka fisik bisa sembuh, tetapi luka hati akibat ucapan buruk bisa bertahun-tahun membekas.

Sebagai umat Islam, kita diwajibkan menjaga lisan, tidak hanya untuk kebaikan diri sendiri, tetapi juga untuk kebaikan orang lain. Ini berlaku bagi semua, mulai dari masyarakat biasa hingga pejabat, guru, penceramah, dan bahkan orang tua. Setiap ucapan harus membawa manfaat dan maslahat, bukan menimbulkan permusuhan atau kebencian.

Lisan yang tak terkendali bisa menjadi pintu masuk konflik, fitnah, atau adu domba (namimah). Rasulullah SAW bersabda:

لا يدخل الجنة نمام

"Tidak masuk surga pelaku namimah (pengadu domba)." (HR. Muslim)

Bahkan, satu kata yang diucapkan tanpa dipikirkan bisa mengangkat derajat atau menjerumuskan ke neraka. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

"Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang diridai Allah, dia tidak menganggapnya penting, tetapi Allah mengangkatnya beberapa derajat. Dan seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dimurkai Allah, dia tidak menganggapnya penting, tetapi dia terjerumus ke dalam neraka." (HR. Bukhari)

Allah SWT juga berfirman dalam QS. Al-Isra ayat 53:

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ"

"Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang terbaik."

Oleh karena itu, mari kita jaga lisan kita dan gunakan untuk kebaikan. Menjaga lisan adalah kunci hidup damai. Ketika kita berkomitmen berkata baik dan menahan diri dari ucapan buruk, hati orang lain akan tenang, hubungan sosial harmonis, dan lingkungan menjadi nyaman.

Di era media sosial, menjaga lisan juga berarti menjaga jari-jemari kita saat menulis, mengomentari, atau menyebarkan sesuatu di dunia maya. Seperti kata pepatah:

"Think before you speak, and think twice before you write."

("Berpikirlah sebelum berbicara, dan berpikir dua kali sebelum menulis.")

Semua ucapan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Dengan menjaga lisan, kita bukan hanya menyelamatkan diri dari dosa, tetapi juga membawa ketenangan dan keberkahan bagi orang di sekitar kita.

Dalam kitab Risalatul Mustarsyidin, terdapat doa agar lisan kita selalu digunakan untuk dzikir:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَمْتِي فِكْراً وَنُطْقِي ذِكْراً

"Wahai Allah, jadikanlah diamku berpikir, dan bicaraku berdzikir."

Oleh karna itu mari kita senantiasa mengendalikan lisan dengan sebaik-baiknya. Setiap kata yang keluar dari mulut kita harus menjadi jalan kebaikan, tabungan amal di dunia dan akhirat.

Subscribe Subscribe