Hari ketika aku pertama kali bertemu dunia adalah hari yang dingin. Aku tidak ingat banyak, hanya dingin, dan hangat sesaat ketika tangan seseorang menyelimutiku. Suara pertamaku dipanggil—namaku, katanya. Aku tidak tahu artinya waktu itu, tapi sejak saat itu aku tahu, aku ada. Dan aku melihat seorang tersenyum, ah tidak. Dua orang yang tersenyum. Mereka yang pertama kali menyambutku. Mungkin, di sanalah aku pertama kali belajar apa itu cinta.
Waktu berlalu seperti aliran sungai yang tidak bisa kembali. Suaraku berubah, dulu sebagai anak kecil yang senang berbicara dengan nada ceria, Aku mulia tumbuh. Aku mulai bermimpi. Tentang dunia, tentang menjadi sesuatu, tentang menjadi seseorang. Tapi ada satu hal yang selalu menggangguku—rasa sepi. Aku pikir aku satu-satunya yang merasa seperti ini, satu-satunya yang terus mempertanyakan kenapa dunia tidak pernah benar-benar terasa hangat seperti bila kita berselimut?
Takdir, bagiku, terdengar seperti sesuatu yang tidak bisa dihindari. Seperti jalan yang sudah ditentukan dan tidak bisa dipilih. Bagaimana aku bisa berharap pada sesuatu yang tak bisa kuubah? Bukankah berharap itu hanya jalan lain menuju kekecewaan?
Aku pikir, jika aku mempercayainya, aku akan terluka.
Dan aku memang terluka. Banyak. Setiap hari, aku menyimpan sakit kecil di sudut hatiku. Sakit karena tidak menjadi seperti yang diharapkan. Sakit karena merasa gagal. Sakit karena kehilangan, karena patah, karena takut. Tapi lucunya, aku tetap tertawa. Selalu. Entah karena sudah terlalu sering menangis, atau karena aku ingin percaya bahwa semua ini bisa dilewati.
Tapi mungkin... mungkin semua rasa sakit ini juga bagian dari takdir.
Mungkin takdir bukan soal semuanya berjalan indah. Mungkin takdir ialah tentang hujan yang turun deras, tapi cepat berlalu. Tentang malam yang gelap, tapi akan habis. Tentang tidak tahu ke mana harus pergi, tapi tetap berjalan.
Melodi hidupku kutulis perlahan-lahan. Satu nada, satu kata, menjadi kalimat. Bahkan saat hujan turun, ketika air mata menyatu dengan langit, tulisan itu tidak pernah pudar. Ia tetap ada. Karena ia adalah bagian dari diriku. Dan diriku adalah bagian dari takdirku.
Aku mulai memahami, bahwa yang bisa kupercaya bukanlah takdir itu sendiri, tapi cinta. Cinta yang menghidupkanku di hari pertama, senyuman yang kulihat pertama kali, yang muncul dalam caraku bertahan.
Cinta adalah hal yang tetap ada, bahkan ketika sakit terasa terlalu dalam.
Dan kini, di tengah hari yang biasa, aku bertanya dalam hati:
Bisakah aku hidup seperti ini, dengan semua luka yang kubawa, dan tetap percaya bahwa aku ada di jalan yang tepat?
Aku tidak tahu. Tapi mungkin, takdir bukan untuk dipercayai sepenuhnya. Mungkin, cukup untuk dijalani.