“Jangan dilepas yah! Asya takut.” Teriak ku.
“Jangan tengak-tengok kanan kiri nanti jatuh.” Sorak ayah dari kejauhan. Saat melepas pegangan nya pada sepeda mini yang baru ayah belikan untuk ku dihari ulang tahun ku.
“Jangan dilepas yah, nanti aku jatuh.” Teriak ku kedua kalinya yang tidak menyurutkan keinginan ku ayah pun tersenyum ketika ia melihat ku belajar sepedah
Bruukk…!!!
Senyum ayah memudar, ia pun berlari menghampiri ku dengan syok dan mata berkaca-kaca…
“Jangan menangis nak, karena luka akan sembuh dengan sendirinya.” Ucap ayah mendekat sambil tersenyum.
***
Demi langit dengan kemegahannya, demi bumi dengan segala isinya, juga demi angin untuk semilirnya.
Ku katakan aku bahagia ya Robb…
Kemarilah aku ingin berbicara, disini sangat teduh, pohonnya sangat rindang. Kau lihat? Dari sini, langitnya seperti mutiara. Berkilau disana, hijaunya dedaunan, sangat sejuk. Miripnya dengan ia bukan?
   Dia, ia dia. Tidakkah kau berfikir, dia pria yang baik? Kurasa begitu. Dia pendiam, ramah, tak mudah marah. Dia juga pekerja keras dan bertanggung jawab. Dulu, aku bertanya? Mengapa bunda mau menikah dengannya.
Dia tak kaya, tak juga rupawan. Lebih kesan ia pria RANTAUAN! Tapi…
“Dia dermawan, juga ramah dan sederhana.” Jawab bundaku.
Ya, dia sangat sederhana dan dia sangat mengagumkan. Dia adalah sosok pria yang terhebat yang pernah kekenal didunia ini.
Ya, dia adalah ayahku, meski dia bukan ayah kandungku.
***
Teringat waktu ku umur 2 tahun setengah. Ayah ku (Kandungku) Menceraikan bundaku. Dan menikah dengan perempuan lain yang sama sekali tak lebih baik. Lelaki yang seharusnya memberiku pelajaran moral, lebih bertanggung jawab dalam hidup ini pergi entah kemana dengan istri barunya. Dan bunda ku? Menikah lagi. Hidup kadang tak adil. Ya itulah setidaknya kata yang terlintas setiap hari kenangan itu membenak. Tapi entahlah. Tuhan memiliki skenario yang tak gampang ditebak oleh para makhluknya. Tak kecuali aku.
Bagiku, dunia itu penuh dengan yang kadang tak pernah ke mengerti.
“Bangun nak… Beduk subuh telah berkumandang, ayo shalat bareng ayah.” Suara lembut membangunkan ku yang terdengar jelas du telingaku.
“Mmm… Ayah belum subuh tau, masih malam ini.” Ulet ku menjawab omongan ayah.
“Sudah subuh nak… Coba lihat jam, syo bangun, cepet ayo…”
Ucapan ayah sambil manrik tangan ku.
Ya… Itulah ayah tiriku. Bagaikan malaikat Rkib yang selalu membisikan ku dalam kebaikan. Ayahlah yang selalu mengingatkan ketika ku belum shalat.
“Nak, makan yuk sama ayah dan bunda.” Bujuk ayah saat ku sedang menangis.
“Tak lah, aku tak mau ayah. Sebelum ayah mengizinkan ku untuk bermain hujan-hujanan.”
“Ya, nanti kapan-kapan saja, atau nanti saja main hujan-hujanan nya setelah redanya hujan.” Jawab ayah sambil tertawa.
“Ihh…Ayah , itu namanya bukan main hujan-hujanan.” Jawab ku dengan mencubit ayah.
Ya itulah ayah, ayah selalu membuat ku tertawa dengan leluconnya disaat ku sedang menangis.


***
Kau tau? Aku sangat menyayangi ayah ku. Ayah tak pernah mengatakan bahwa ia tidak pernah menyayangi ku. Ia pendiam, ya aku tau itu. Tapi, caranya menjaga ku, mengajari ku dan juga caranya tersenyum dikala terik mengusik adalah jawaban dari segala rasa cinta dan sayangnya. Hubungan yang sangat sederhana, seperti hembusan angin. Sangat lembut, tapi mengejukan. Betapa beruntungnya aku dapat mengenalnya, ya…walaupun aku bukan anak kandung nya. Demi langit dengan kemegahannya, demi bumi dengan isinya dan demi angin untuk semilirnya. Aku masih tersenyum bahagia.
Agustus 2010. Maha kuasa menjemputnya, beliau meninggalkan ku dan bundaku. Beliau adalah seseorang yang sangat kita cintai. Ya, beliau meninggal menderita sakit jantung, selama ku hidup bersamanya, aku tak pernah tau apa yang ia rasakan, hanya senyuman yang sering ia tampakan dihadapan ku. Bunda, bunda jahat padaku, bunda mungkin tau penyakit ayah. Tapi, bunda tak mengatakan itu padaku. Ya mungkin bunda tak ingin aku memikirkan hal itu, bunda khawatir itu hanya akan menjadi penghalang dalam belajarku sejenak ku berfikir seperti itu. Ternyata ada luka yang tak bisa sembuh dengan sendirinya ya, Ayah…
Luka dihati ku tak kunjung sembuh, masih terasa ketika ku berjalan, ku mengingat mu, mataharinya sangat panas, aku tak tahan. Anginnya sangat kencang, aku mengingat mu, ya… Aku mengingat mu ayah… Disemilir angin yang menghantam ku, juga ketika ayah tersenyum padaku, aku mulai merindukan ayah. Kadang aku merasa tidak adil, kenapa semua ini manimpa keluarga baru ku, ya keluarga baru ku lewati 2 tahun ini. Sangat beruntung aku dapat mengenalnya. Ia sosok pria yang tak pernah menyerah, tanggung jawab dan selalu mengajari ku hidup sederhana.
Menghadapi situasi ini, terus terang aku gundah, aku hanya ingin apa yang kurencanakan dapat berjalan seperti rencana akual, ternyata berbeda dengan apa yang aku harapkan. Tapi sekarang, aku menoleh kembali kebelakang, aku justru mensyukuri semua ini. Seperti hembusan angin yang sangat lembut tapi menyejukan, kehadiran nya yang singkat dalam kehidupan ku. Dia seperti angin…
#Karya Syifa fauziyah santri wati kelas VI muallimin asal Bekasi, dia termasuk anggota Qolami.