Krak.. 

Suara dedaunan yang kering terbawa oleh angin menyapu halaman rumah. Disana terdapat seseorang yang sedang merasakan hembusan angin yang perlahan-lahan mengelus sekujur tubuhnya ia sedang berdiri dengan membentangkannya tangannya berharap angin akan membawa perasaannya yang sedang bersedih.
“Heii” Teriak seseorang dari arah belakangnya, yang ia dengar hanya suara samar-samar akibat kerasnya hembusan angin “Hai buta!” Terdengar lagi teriakan, kali ini orang yang di teriaki mulai mendengarnya. suara yang sangat ia kenali “Buta!” Orang itu berteriak lagi untuk yang ketiga kalinya padahal jaraknya sudah lumayan dekat “Iya lumpuh.” Jawab si buta dengan suara yang kencang membuat si lumpuh terlonjat kaget “Kamu apa-apaan sih teriak di  telingaku!” Si lumpuh bersungut-sungut sambil memegang telinganya yang sakit akibat teriakan si buta yang sangat kencang “Maaf, maaf aku gak tau kalo kamu sudah di depan aku.” Jawab buta yang diiringi dengan cengiran salah tingkah “Yeh malah cengengesan gitu.” Ucap si lumpuh “Memang kenapa tidak boleh memangnya?” Protes si buta “Sudah ah mending sekarang kamu temani aku ke pasar” Ucap si lumpuh yang malas berdebat dengan si buta “Ngapain?” Dengan nada yang agak kesal karna si lumpuh mengalihkan pembicaraan “Aku disuruh ibuku untuk membeli Ayam.” Jawab si lumpuh dengan nada yang agak lembut seperti membujuk. Si butapun beranjak dan memasang badan untuk dinaiki si lumpuh. Lumpuhpun menaiki badan si buta kemudian mereka berjalan ke pasar dengan cara si buta menjadi penopang bagi si lumpuh seperti biasa.
Mereka menuju pasar yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka. jaman dahulu belum ada motor dan mobil yang ada hanya sepeda ontel toh jika memang ada sepeda siapa yang ingin membawanya? Si buta tak dapat melihat dan si lumpuh tak dapat menopang berat sepeda “Buta” Panggil si lumpuh yang sedang digendong “Iya” Jawab si buta  “Boleh aku bertanya?” Tanya si lumpuh “Boleh” Jawab si buta dengan santai “kita sudah lama berteman lama, tapi aku belum tau penyebab kamu buta. Kenapa?” Tanya si lumpuh dengan sedikit kaku lebih tepatnya adalah ragu-ragu. Si buta yang mendengar pertanyaan tersebut hanya tersenyum sebagai jawaban pertama. Silumpuh yang melihat tanggapan si buta menjadi sedih karna merasa telah melukai hati si buta karna mengingatkannya dengan masa lalu yang menyakitkan “Aku buta sejak aku masih kecil lumpuh.” Jawab si buta yang membuat orang digendongannya merasa kaget “Berarti dia tidak pernah merasakan nikmatnya melihat mentari pagi” Ucap lumpuh dalam hatinya. “Aduh.” Ucap si buta yang kesakitan akibat tersandung ranting pohon yang jatuh “Kamu gimana sih lumpuh? Kasih tau jalannya kok malah diem kan aku jadi kesandung untung aja gak jatuh” Protes si buta kepada lumpuh yang masih terbengong akibat pernyataan si buta “kamu gak usah heran lumpuh dulu ketika aku masih bisa melihat aku selalu cuek dengan kemungkaran yang telah aku lihat seakan-akan aku itu buta kepada hal-hal yang mungkar jadi tidak ada bedanya kan dengan orang yang buta jadi aku merasa buta dari lahir” ucap si buta dengan panjang lebar menjelaskan apa yang masih menjadi pertanyaan si lumpuh, “Lalu, bagaimana bisa sampai buta.” Batin lumpuh bertanya “Aku mengalami kecelakaan ketika aku duduk di kelas 1 SMP aku ditabrak lari oleh Mobil ketika ingin menyebrang jalan.” Sambung si buta yang membuat silumpuh mengangguk-ngangguk. Mereka meneruskan perjalanan yang hanya diisi oleh suara si lumpuh sebagi penunjuk jalan.
 “Akhirnya kita sampai buta” Ujar si lumpuh yang dari tadi menjadi penunjuk jalan bagi si buta merekapun mencari penjual yang mereka cari yaitu penjual Ayam  “Misi bang,ayamnya satu berapa ya?” Tanya si lumpuh yang digendong si buta.  yang diajak bicara hanya bengong dan sedikit heran dengan apa yang ia lihat “Eh apa de?” tanya penjual ayam yang belum dapat mencerna perkataan lawan bicaranya “Ayam satunya berapa bang?” tanya silumpuh kepada sang penjual “Harganya 35 ribu de,” “Yaudah bang saya beli satu, 13 potong ya”  Ucap si lumpuh. Penjual ayam yang sudah memahami ucapan lawan bicaranya langsung memotong ayam “Nih de” ucap penjual ayam sambil memberikan kepada si lumpuh lalu si lumpuh memberikan uang kepada penjual  “Dah gak usah de buat kalian saja.” Jawab penjual sambil mendorong uang yang diberikan oleh lumpuh “Eh makasih ya pak” Jawab si lumpuh dengan tidak enak hati lalu si lumpuh menyuruh si buta untuk melangkahkan kakinya pergi .
“Nanti dulu.” Panggil penjual ayam tersebut yang membuat si buta refleks menghentikan kakinya “Boleh saya bertanya ?” Penjual ayam tersebut kepada mereka berdua si lumpuh yang menjawab dengan menganggukan kepala. “Mengapa kalian saling mengendong dan digendong?” Tanya sang penjual dengan ragu-ragu “Jika kami tidak seperti ini maka kami tidak bisa berjalan” Jawab si buta yang membuat si penjual bertambah rasa penasarannya “Si buta yang dibawah menjadi kaki bagiku untuk berjalan dan menjadi tempat untuk aku berdiri dan aku yang diatas menjadi mata bagi si buta sebagai penunjuk jalan dan menjadi mata baginya untuk melihat juga memberi tahu kepadanya apa yang ada disekeliling kami” Tambah si lumpuh dengan panjang lebar yang membuat sang penjual mengangguk-ngangguk paham dengan semua yang dikatakan oleh si lumpuh setelah bercakap-cakap sebentar merekapun pamit pulang untuk mengantarkan pesanan ibu si lumpuh yang  sejak tadi menunggu mereka pulang.
 sebenarnya bukan belanjaan yang ibu lumpuh tunggu tapi, kabar mereka yang pergi terlalu lama.