Iqra Ilmu Pengetahuan merupakan salah satu prasyarat yang mutlak dan sangat besar pengaruhnya bagi kebangkitan islam. Terbukti, etos yang pertama kali diperintahkan oleh Al Qur’an adalah membaca iqra, bukan Shalat, Puasa, Zakat, dan Haji. Atas dasar ini, dimata para ahli, islam adalah agama melek huruf atau “ The Religion Of Literacy.” Artinya, dimanapun berada islam selalu mengajarkan orang untuk bisa membaca. Dan pembacaan yang paling utama adalah dengan cara melibatkan intelektual dan spiritual. Sebab, jika kita mampu mengaplikasikannya, maka dengan optimis kita mampu menguasai dunia dan bahagia di akhirat-Nya.

Suatu ketika Baginda Rasullullah SAW, pernah bersabda : “Akan datang dalam waktu tidak lama kepada manusia suatu zaman, dimana agama islam hanya tinggal sebuah nama, dan Al Qur’an hanya tinggal tulisan saja.” (H.R. Al Baihaqi)

Gambaran Hadits Rasullullah SAW diatas, secara jujur ingin kita katakan bahwa telah kita alami sekarang ini. Terbukti di tahun tahun belakangan ini kalau kita melihat generasi islam mengalami keterbelakangan. Sebaliknya, kalau kita melihat generasi non islam mengalami kemajuan. Padahal, jikalau kita ingin berfikir sejenak, mengapa terjadi demikian? Padahal Allah telah menurunkan kepada kita kitab Al Qur’an, yang didalamnya memuat jawaban terkait segala polemik kehidupan.

Menurut Nasaruddin Umar, selama ini umat islam kurang rahasia dibalik kata “ اِ قْرَ أْ “. Padahal hemat beliau rahasia dibalik kata inilah yang mampu membangkitkan kebukuan dan keter belakangan umat islam dari orang orang non islam yang memegang peradaban dunia dewasa ini.

Terkait dengan makna rahasia dibalik “ اِ قْرَ أْ “ ini, dalam penjelasan tafsir isyari beliau menjelaskan, “mengapa sosok jibril menggunakan kata perintah “ اِ قْرَ أْ “ tersebut memiliki makna rahasia yang mendalam. Bayangkan sekelas Rasulullah sendiri pada waktu itu, sampai dijawab beliau 3 kali.” (Aku tidak mampu membacanya). “Kenapa terjadi demikian? Benarkah Rasullullah tidak bisa membaca? Sungguh lucu rasanya secerdas Rasullullah tidak bisa membaca.

Secara ilmu semantik (Bahasa) , Kata “ اِ قْرَ أْ “ tersebut merupakan suatu kosakata yang tidak familiar pada bangsa arab masa itu. “ اِ قْرَ أْ “ artinya membaca kitab suci sementara dunia arab tidak pernah sebelumnya turun kitab suci. Yang ditunggu tunggu mungkin kata     “ ا تلوا” yang artinya juga membaca. Tapi yang dimaksud disini objek adalah syair syair arab yang diketahui umumnya oleh mereka saat itu.

Maka wajar ketika jibril mengatakan “ اِ قْرَ أْ “ seketika itu juga Nabi Muhammad SAW menjawab “(Aku tidak mampu membacanya).” Yang maksudnya disini, bukanlah Nabi tidak bisa membaca, melainkan karena bangsanya saat itu bukanlah bangsa pembaca kitab seperti bangsa bangsa sebelumnya. Lantas apa rahasianya dibalik kata “ اِ قْرَ أْ “ yang diyakini oleh Prof. Nasaruddin Umar dapat mengembalikan kejayaan islam seperti dahulunya? Hemat beliau ada 4 rahasia :

  1. How to Read
  2. How to Learn
  3. How to Understand
  4. How to Meditate

Baik kita akan menguraikannya satu persatu :

1. Kata “ اِ قْرَ أْ “ yang bermakna : How to Read. Dalam tafsir isyari beliau menyebutkan, bahwa “ اِ قْرَ أْ “ pertama disini artinya bacalah, maksudnya kita membaca semua ayat yang ada dalam ayat Al Qur’an. Jadi kalau kita hanya baca ayat Al Qur’an kejar target, dalam arti membaca 5 juz, 10 juz, bahkan sampai 30 juz dalam suasana sendiri atau diperlombakan hemat beliau kita hanya berada dilevel “ اِ قْرَ أْ “ yang pertama. Dan ingat bahwa jibril tidak memerintahkan “ اِ قْرَ أْ “ hanya satu kali, namun kita diminta juga naik pada level “ اِ قْرَ أْ “ yang kedua. 2. Kata “ اِ قْرَ أْ “ yang bermakna : How to Learn. Yang maksudnya disini, tidak hanya sekedar membaca, namun kita dituntut untuk mempelajari lebih dalam terkait dengan ulum Al Qur’an yang ada didalamnya. Baik itu tajwid, asbabun nuzul, nasikh-mansukh, makkiyah-madaniyah, dan ilmu ilmu lainnya yang berkaitan dengan Al Qur’an. Namun sayangnya hemat beliau, umumnya orang islam terhenti pada level yang kedua ini, sehingga mereka sering terjebak salah memaknai slogan “Kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah.” Padahal hemat beliau kita harus naik lagi ke level atas lagi. 3. Kata “ اِ قْرَ أْ “ yang bermakna : How to Understand. Yang maksudnya disini, bagaimana kita memahami kandungan Al Qur’an tersebut. Disini beliau mengkritisi, bahwa umat islam kita atau para ustadz kita sering memahami atau mengajarkan bahwa yang dimaksud “ اِ قْرَ أْ “ disini adalah bacalah Al Qur’an, padahal Al Qur’an belum ada waktu itu (Perjumpaan Jibril dengan Nabi Muhammad SAW)

#Ustad Ulul Azmi salah satu Guru di Pondok Pesantren Al-Hidayah Al-Mumtazah