Syaqila Nadhira Unpush itulah namanya. Semua kisah hidupnya ada disini, tentang bagaimana penyakitnya dan kondisi keluarganya. Tapi, harta itu terkuras habis untuk biaya pengobatan penyakitnya yang cukup serius ini.

Pagi ini, Bibi mengajak Qila untuk sarapan bersamanya tetapi, Qila menolak, ia ingin sarapan bersama Mamanya. Tapi,sayang Mama Qila tak kunjung pulang. Bibi memaksa Qila hingg akhirnya ia menyerah. Baru saja Bibi ingin menarik kursi tiba-tiba Qila pingsan. Bibi panik, wajah Qila pucat, akhirnya Bibi memutuskan untuk  membawa Qila ke rumah sakit. Setelah diperiksa Qila didiagnosa megidap penyakit Leukimia Stadium 3, Bibi sedih ketika megetahui anak majikannya mengidap penyakit yang sangat serius, menurut Bi Ijah Qila adalah anak yang baik, cerdas, penyayang dan lemah lembut. Tapi,sayang Qila kurang kasih sayang kedua orangtuanya.

“Non Qila mau Bibi telponin Nyonya gak?” tanya Bi Ijah “Gak usah Bi, biarin Mamah tahu sendiri,” ucap Qila pasrah. Setelah seminggu dirawat, akhirnya Qila pulang ke rumah. Sesampainya di rumah ia melihat mobil Mamah dan Papahnya di garasi.“Assalamualaikum” salam Qila dan Bi Ijah bersamaan “Waalaikumsalam” jawab Papahnya “Dari mana kamu?” tanya Mamah kepada Qila“Aku yang seharusnya nanya, Mamah dan Papah dari mana? Kerja tapi gak inget pulang. Gak inget kalo punya anak?!” ucap Qila sinis.

Ia sudah muak dengan perilaku kedua orangtuanya yang sibuk dengan pekerjaan hingga lupa pada dirinya.“Berani ya kamu bilang begitu ke Papah dan Mamah!!” ucap Papah Qila marah “Aku berani ngomong kayak begini karena aku udah capek sama sikap kalian,” tegas Qila seraya menahan sesak didada. “Udah udah!! Qila, Mamah mau ngomong sama kamu,” lerai Mamah seraya berajalan menuju kamar Qila, dia pun mengikutinya “Mamah mau nanya, kamu dari mana sayang?” tanya Mamah lemah lembut. Qila tak menjawab ia hanya menyodorkan amplop dari rumah sakit.

Ketika dibuka, Mamah Qila terkejut. Ternyata anak satu-satunya itu menderita penyakit yang serius “Kenapa kamu baru cerita sama Mamah?” tanya Mamah denagn mata yang berkaca-kaca “Maafin Mamah sayang selama ini Mamah jarang ada waktu ke kamu, jarang ngasih perhatian ke kamu, kamu pasti benci ya sama Mamah?” ucap Mama Qila penuh  penyesalan “Enggak kok Mah, aku gak benci sama Mama. Maafin Qila Mah tadi kebawa emosi” sesal Qila

Hari demi hari pun berlalu, keadaan Qila semakin memburuk. Sehingga ia harus menjalani Kemoterapi dengan biaya yang tidak sedikit.

 Tok, tok, tok.

 “Qila, ayo sayang sebentar lagi kita akan berangkat,” ucap Mamh Qila seraya membuka pintu “Mah? Sampai kapan Qila dikemotrapi?” tanya Qila seraya menatap pantulan dirinya di cermin “Sampai kamu sembuh sayang,” ucap Mamah Qila seraya mengelus rambut Qila “Tapi mah, Kemotrapi itu kan butuh biaya banyak” ujar Qila menahan tangis. Hening Mamah Qila hanya bisa menghela napas. “Mah! Qila anak yang gak berguna ya? Qila anak yang cumann bisa ngerepotin Mamah doamg ya?” tanya Qila bertubi-tubi

“Sayang! Kamu jangan begitu. Mamah gak suka, kamu itu putri Mamah yang hebat, yang tangguh dan kamu gak pernah nyusahin Mama. Cukup kamu punya semangat untuk sembuh, Mamah akan bangga sama kamu,” ucap Mamah Qila dengan tegas. Sudah berkali-kali melakukan Kemoterapi, tetapi keadaannya semakin memburuk. Padahal sudash banyak uang yang dikeluarkan untuk membeli obat. Hingga menjual semua alat-alat rumah tangga. “Kamu gimana sih?! Udah tau dia anak penyakitan. Kenapa kamu masih ngobatin? Dia gak akan sembuh. Percuma kamu cuman ngabisin duit doang,” ujar Papah Qila murka.

“Maksud kamu apa? Dia itu anak kita kenapa kamu ngomong gitu?” tanya Mamah Qila dengan nada marah. Tanpa mereka sadari, ada Qila yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua sampai merasa sesak “Kamu itu sama dia sama aja, cuman bisa ngabisin duit saya! Dasar istri dan anak gak berguna” ucap Papah Qila seraya mendorong Mamah Qila ketembok dengan kuat. Qila yang menyaksikannya pun langsung berlari untuk menyelamatkan Mamahnya “Pah! Papah ini kenapasih? KENAPA Papah dorong Mamah? Kalau Papah benci sama aku bilang Pah! Jangan sakitin Mamah!” ucap Qila dengan mata berkaca-kaca.

Qila pun langsung memeluk Mamah, kepala Mamah berdarah karena terbentur tembok denagn keras,” udah Qila jangan marahin Papah. Papah gak sala kok, Mamah yang salah, maafin Mamah karena udah gak bisa jagain kamu lagi jangan benci sama Papah kamu ya!” ujar Mama Qila seraya mencium kening Qila dengan sekuat tenaga.

Brukkk…. tubuh Mamah pun jatuh, napas Mamah terputus, muka Mamah memucat karena kehabisan darah. Sakit, hancur, nyeri dan lemas. Itulah yang dirasakan Qila. Ia ditinggalkan dengan orang yang sangat dicintainya dalam kondisi yang sangat buruk

  “Mamah?!” teriak qila. Ia tekejut dengan keringat bercucuran. Ternyata ia baru saja bermimpi. Ya, mimpi itu datang lagi. Kejadian 2 tahun lalu yang terulang kembali. Dimana sebuah luka terbesar dalam hidup Qila terbuka kembali.

#Syafina Nur Seha anak kelas V Muallimin salah satu santriwati Al-ATAZ