Menulis dalam islam merupakan suatu kewajiban setelah perintah untuk membaca (belajar, meneliti, dan menelaah). Menulis berarti menyimpan apa yang kita baca dalam sebuah media yang bisa di akses oleh siapa saja. Dalam perkembangannya, menulis memiliki peran yang sangat urjen dalam sejarah kejayaan ummat islam beberapa abad silam. Selama ulama menjadi arsitek kejayaan, islam masa lalu adalah para penulis yang telah menghasilkan berbagai buah karya yang sampai saat ini masih menjadi rujukan ummat islam sedunia dalam berbagai disiplin keilmuan. Bahkan, eropa yang kemajuannya hari ini telah jauh meninggalkan dunia islam ternyata pernah mengekor pada kemajuan ummat islam masa silam. Dan berbagai kemunduran ummat islam dewasa ini bisa dipastikan karena tradisi membaca dan menulis yang pernah di popuulerkan oleh para ulama masa lalu telah di gantikan.

Dan menulis harus ada orientasi ke akhiratan, artinya kegiatan menulis harus bisa bernilai ibadah tatkala hal ini telah terpenuhi maka aktivitas menulis akan menjadi suatu kenikmatan tersendiri yang bahkan akan membuat para penulis semakin termotivasi untuk menulis.

Dengan tulisan, kita bisa berdakwah (menyebarkan kebenaran), mengajari, menyebarkan ide dan pemikiran, melontarkan gagasan, menyampaikan kritikan atau hanya sekedar memberi tanggapan.

Seseorang bisa mencoba merancang dan merumuskan bentuk peradaban dan masa depan impian atau kehidupan ideal yang di dambakan. Banyak bukti sejarah yang membenarkan asumsi ini. Misalnya: Bagaimana dahsyatnya kekuatan novel “Ayat-ayat cinta” dan “Ketika cinta bertasbih” karya Habiburrahman El-Shirazy sanggup membius ribuan remaja muslim Indonesia, putra dan putri dengan berbagai pesan islamnya. Sehingga banyak sekali di antara mereka yang bermimpi dan berjuang menjadi jelmaan (Reinkarnasi) tokoh-tokoh yang digambarkan dalam novel tersebut, seperti Fahri, Azam dan sebagainya.

Dalam novel tersebut mereka digambarkan sebagai aktor yang benar-benar mengaktualisasikan nilai-nilai islam ke dalam realita kehidupan sesungguhnya.