Saat sebuah mimpi memaksa kita untuk terus melangkah maju, tanpa kita hiraukan jika kita sudah sejauh ini melangkah, jiwa yang yakin akan impiannya, Arabelle si gadis cantik berkulit putih, berambut ikar wavy hair, dan mempunyai bibir yang tipis. Anak keturunan Indonesia dan Amerika, dia sangat menyukai Bangkok yang menjadi ibu kota Negara Thailand. Berharap nanti dia bisa kuliyah di sana bersama Jovanka yang berasal dari Thailand, yang tak lain dia adalah anak dari sahabat Ayahnya Arabelle, namun, saat ini Jovanka sedang berada di Amerika.

“Baby, where are you going?” tegur Nona Birdella, Mamah Arabella.

“I excuse me ma’am, I want to go to my friend’s house,” jawab Arabella, sambil melambaikan tangannya kepada Birdella.

“Hati-hati, sayang!” ujar Birdella dengan sedikit teriak.

“Baik, Mah.”

Arabella, sudah berjanji untuk datang ke rumah Indira untuk mengerjakan tugas sekolah, dia pun mengambil ponsel di dalam tasnya, untuk menelfon Indira.

“Assalamualaikum, Ra.”

“Bella, lo jadikan datang ke rumah gue? Awas aja kalau gak datang, gue aduin ke Bu Laila, biar nilai lo nol.”

Arabella tersenyum kecut, sahabatnya ini paling bawel dalam segala hal, belum sempat dia bicara, Indira sudah mengomel bak emak-emak.

“Hey, gue pasti datang kok, sebentar lagi sampai, lo tunggu di depan rumah ya!”

“Okey.”

“Wait for me, okey?”

“Dah.”

Indira pun memutuskan sambungan secara sepihak, dia bergegas keluar rumah, untuk menyambut kedatangan Arabella.

Arabella menghela nafas setelah sambungan telfon terputus, dia tidak menyangka akan mempunyai sahabat yang cerewetnya minta ampun, Indira asli orang Indonesia, mempunyai hobby menonton Drakor, mempunyai rambut yang panjang dan lurus, kadang dia membuat poni ala wanita korea. Tak lama kemudian taksi yang di tumpangi Arabella sudah sampai di depan rumah Indira.

“Indira!” seru Arabella, sambil melambaikan tangannya.

“Ayo masuk!”

Indira pun langsung mempersilahkan Arabella untuk masuk ke dalam rumahnya.

“Gue bikinin lo minum dulu ya, lo mau minum apa?” tanya Indira.

Arabella nampak bingung, “Apa aja deh, terserah lo,” katanya.

Indira pergi mengambil minuman, Arabella pun membuka-buka buku pelajarannya, ternyata banyak juga ya? Bu Laila memberikan tugasnya.

“Pusing kan lo, Bel?” tanya Indira saat melihat eksperesi Arabella yang bingung.

“Tega banget sih Bu Laila, bikin soalnya gak kira-kira,” keluh Arabella.

“Ya udah minum dulu nih,” ujar Indira sambil mengulurkan tangannya kepada Arabella. “Lo gimana sih, inikan tentang sejarah Thailand masa lo gak tau sih,” kata Indira sarkasme, yang tahu jika sahabatnya ini menyukai Negara Thailand.

“Gue baru tahu sedikit sejarah di Thailand,” sahut Arabella jutek, sambil menjawab soal nomor satu.

Arabella dan Indira pun mengerjakan tugas dengan serius, terkadang Arabella berpikir bahwa semua orang harus datang ke Thailand, dan mengunjungi Bangkok.

“Bell, lo masih ‘kan sama Jovanka?” tanya Indira, dia tahu bahwa kini hubungan Arabella dan Jovanka sedang tidak baik, karena mereka menjalin hubungan jarak jauh.

Ayahnya Arabella, ingin anaknya meluluskan sekolahnya dulu, dan meneruskan pendidikannya nanti di Amerika namun, Arabella sangat ingin ke Thailand untuk meneruskan pendidikanya nanti.

“Masih baik-baik saja kok, hanya saja hati ini kadang terluka, saat aku merindukannya.” ujar Arabella, dengan wajahnya yang nelangsa.

“Sabar Bel, sebentar lagi kok, lo pasti bisa ke Thailand.” Indira memberikan dukungan untuk sahabatnya ini.

“Iya makasih ya, ya sudah kita kerjakan yuk tugasnya,” ucap Arabella, sambil kembali sibuk mengisi soal-soal.

“Habis ini , kita nonton The Heirs ya!” ujar Indira, sambil mengedipkan matanya.

“Okey, up to you.”

“Thank you, friends,” sahut Indira, dia sudah tak sabar untuk menununggu kejadian yang selanjutnya di film the heirs.

&&&

6 tahun berlalu, Arabella di nyatakan lulus dengan nilai terbaik, membuat sang Ayah bangga dan memberi hadiah tiket untuk ke Thalinad, kini Arabella mendapat telfon dari Ayahnya yang berada di Amerika.

“…..”

“Iya Ayah, ada apa?” tanya Arabella.

“….”

“Baik Ayah, aku tunggu kabar baik secepatnya,” balas Arabella, dengan mata yang berbinar.

Indira melihat Arabella yang nampak senang. “Ada apa denganmu, Ayah kamu ngomong apa?” tanyanya,

“Ayah bilang, aku boleh ke Thailand dan besok aku akan berangkat,” ujar Arabella sambil terus tersenyum, kini dirinya sangat senang, “Bangkok, I’am coming!” teriaknya.

Indira senang melihat sahabatnya akan pergi untuk mengejar impiannya namun, hatinya tidak bisa di bohongi bahwa dia tidak ingin Arabella pergi ke Thailand, dia tahu bahwa setiap pertemuan pasti ada perpisahan, kini dia harus mengikhlaskan sahabatnya pergi.

“Indira, terima kasih telah menjadi sahabat terbaikku di Indonesia, aku janji akan membawamu ke Bangkok di tahun baru dan menyaksikan festival lampion di Chiang Mai bersamaku dan Jovanka.

Ibukota utara Thailand selalu menjadi hotspot untuk festival dan liburan, dan malam tahun baru tidak terkecuali. Untuk satu, perayaan malam tahun baru seringkali gaduh dan dapat keluar dari tangan, terutama di kota besar seperti Bangkok. Meskipun Chiang Mai masih merupakan kota besar, kota ini tetap mempertahankan getaran kota kecil sambil menyelenggarakan beberapa perayaan terbaik di negara ini, salah satu upacara lilin yang paling terkenal adalah upacara nyala lilin. Orang Thai dan orang asing berkumpul dengan berbagai lentera kertas yang berbeda di sekitar kota sebelum membiarkan mereka pergi ke langit malam yang gelap.

“Wah, benarkah Bella?” tanya Bella memastikan bahwa sahabatnya ini dapat menepati janjinya. “Aku suka festival lampion, sangat indah sekali, saat aku lihat di film Korea yang aku tonton,” katanya.

“Aku janji untukmu.” Arabella dan Indira mengaitkan jari kelingkingnya.

Keesokan harinya, Jovanka tiba di Indonesia untuk menjemput Arabella, wajah senang ketika bertemu sang kekasih sangat nampak pada wajah Arabella, dia memeluk Jovanka untuk melepas kerinduannya, Ayahnya sangat kejam memang, dia memerintahkan Jovanka untuk tidak menghubungi Arabella sebelum tiba waktunya.

“Mamah, Jev, in here.” Arabella berteriak memanggil Mamahnya, Birdella sedang menyiapkan keperluan Arabella untuk di sana.

“Bella, Ayahmu ingin bertemu denganmu terlebih dahulu, sebelum kita tiba di Thailand,” kata Jev, menyampaikan amanah dari Ayahnya Bella.

Birdella datang dengan membawa koper milik Arabella, Jovanka langsung bersalaman dengan Mamahnya Arabella.

“Hati-hati ya sayang, Mamah akan selalu mendo’akan kalian, Jev, Tante nitip Arabela ya, dia masih belum hafal bahasa Thailand tolong jagain dia di sana,” pinta Birdella dengan nelangsa, dia harus bisa melepaskan putrinya untuk bisa kuliyah di luar Negeri.

“Mamah, bái láew ná kráb, bái láew ná ká,” ujar Arabella, dengan menggunakan bahasa Thailand yang sudah dia hafal.

“La gòn kráb, la gòn ká,” sahut Jovanka yang memang sudah hafal bahasa Thailand. Dia tersenyum kepada Arabella.

“Duh, kalian ini mencoba membuat Mamah pusing deh,” ujar Berdella, sambil terkekeh, tangannya memegang kepalanya yang memang terasa pusing mendengar bahasa asing yang tak dapat dia tahu artinya.

“Aku dan Bella, pamit ya Tante,” ucap Jovanka, sambil mencium tangan Birdella di ikuti oleh Arabella.

“Dah, Mamah jaga diri baik-baik ya di rumah, jaga kesehatannya juga,” tutur Arabella memberikan peringatan kecil untuk sang Mamah.