Matahari terbit dari sebelah barat cahayanya menyinari pesantren yang telah dibangun oleh seorang kiyai yang lumayan masyhur di daerahnya, nama pesantren tersebut adalah TARBIYATUL MAHIR. Setiap tahunnya banyak anak-anak yang telah lulus sd masuk pesantren itu mereka berbondong-bondong dan sama-sama meluruskan niatnya untuk mencari ilmu karena Allah.

Pada suatu ketika pesantren digegerkan dengan kedatangan nama Ahmad, karna dia memiliki kecerdasaan yang tinggi dan disanjung oleh semua orang yang ada didaerah tersebut. Tetapi Ahmad merasa kurang dengan ilmunya, akhirnya Ahmad pergi ke sebuah pesantren TARBIYATUL MAHIR untuk bertemu dengan kiyai dan memperdalamkan ilmunya lagi saat diperjalanan ia banyak menerima kritikan dari orang-orang untuk apa kamu menuntut ilmu lagi, sedangkan kamu udah punya banyak ilmu, bahkan kamu dapat mengalahkan ilmu Ustad-Ustad dan para guru di kampung ini, kata warga sekitar kepada Ahmad, tetapi Ahmad hanya menjawab:

“Seseorang yang haus tidak akan pernah berhenti minum sampai dahaganya hilang.” Dan perkataan itu dapat membungkamkan semua mulut yang selalu mengkritiknya.

Ketika ia sampai di pesantren ia sempat meneteskan air matanya dan berharap kepada Allah agar ia dijadikan sebagai orang yang berguna di masyarakat. Setelah itu ia menginjakan kakinya di pesantren dan ia tak lupa untuk mengucap basmallah untuk mengawali langkahnya.

Saat di dalam pesantren, ia mecari sosok kiyai ia bertanya kepada semua santri yang ada di sana, tetapi mereka menjawab. “Afwan akhi saya tidak tahu”. Akhirnya ia menemukan seorang ustad yang sedang berjalan, lalu Ahmad pun bertanya kepada seorang ustad tersebut.

“Wahai lelaki yang sangat berharga bagi muridnya, apakah anda tahu dimana keberadaan kiyai?”, ustad pun menjawab. “Tolong antarkan aku kepadanya aku ingin bertemu dengannya, aku ingin mencium tangannya, aku ingin minta restu kepadanya agar aku diterima sebagai muridnya”. Lalu ustad itupun tertegun mendengar ucapan Ahmad yang sangat menusuk kedalam hati, dan ustad itu pun mengantarkan Ahmad bertemu dengan kiyai.

Akhirnya mereka berdua sampai ke rumah kiyai, lalu sang ustad pun menuju ke depan pintu rumah kiyai dan mengetuknya tetapi saat sang ustd menoleh kebelakang ia melihat sosok sang murid itu jauh di belakangnya dan ia pun bertanya kepada Ahmad. “kenapa engkau menunggu di sana?”, belum sempat Ahmad menjawab, keluarlah sang kiyai dari rumahnya dan Ahmad pun menghampiri sang kiyai tersebut menggunakan kedua lututnya. Saat telah sampai dihadapan kiyai, ia mencium tangan sang kiyai, lalu sang kiyai pun berkata kepadanya. “Aku terima engkau anak muda sebagai muridku.” Belum sempat Ahmad mengucapkan sesuatu, tetapi sang kiyai sudah tau tujuan Ahmad menemuinya, lalu Ahmad pun berkata kepada kiyai. “Namaku Ahmad, aku akan mengabdi kepadamu dengan ikhlas wahai wahai guru dan sekarang aku minta izin untuk merapihkan dan meletakkan barangku di kamar, dan sang kiyai dan ustd mengizinkan Ahmad untuk pergi.

Sudah 6 tahun waktu berlalu begitu cepat Ahmad yang sejak kecil memiliki kelebihan yang luar biasa akhirnya ia lulus dari pesantren yang ia singgahi selama 6 tahun mencari ilmu tetapi, sebelum Ahmad pergi sang kiyai berkata; “jangan lupa kepada guru-gurumu yang telah mengajar dan mendidikmu dan tetap hormatilah orangtua mu,”pesan sang kiyai kepada Ahmad. 10 tahun telah berlalu, dan Ahmad pun menjadiorang yang sukses ia memiliki perusahaan, pesantren, sekolah dan lain-lain. Dan ia juga memiliki keluarga yang SAMAWA. Dan ia selalu menghormati kedua orangtuanya apapun yang orangtua inginkan ia selalu berusaha memenuhinya.

Tetapi suatu ketika diperjalanan, Ahmad melihat sang kyai yang sedang berjalan di depannya dengan mengendarai motor sedangkan Ahmad mengendarai mobil, karna Ahmad melihat kyainya melaju dengan lambat akhirnya si Ahmad menyalib kyainya dan kyai nya pun tahu bahwa itu adalah Ahmad muridnya 10 tahun yang lalu, dan terbesit di dalam hati kyainya rasa sakit dan kecewa karna muridnya tidak lagi menghormatinya.

5 tahun setelah kejadian tersebut Ahmad mendapat musibah besar yakni berupa kerugian semua perusahaan, sekolah, pesantren, dll yang ia miliki kehancuran baik dalam bentuk ekonomi maupun fisik akhirnya Ahmad hidup dalam keadaan susah dan semua ilmu yang ia pelajari selama 12 tahun hilang dan menjadi sia-sia tidak ada satupun terbekas dipikirannya, dari mulai SD-SMA tidak ada bekas sedikitpun akibat perbuatannya yang tidak lagi menghormati guru dan malah ia melupakan gurunya.

Dan cerita diatas kita bisa mengambil hikmah bahwasanya kita harus selalu menghormati guru dan kedua orangtua karna guru dan orang tua adalah pendekar yang Allah kedunia untuk selalu mengajarkan kita, mendidik kita dan mengajarkan kita.