B.J Habibie sebuah nama yang tak asing di negara indonesia, bahkan diluar negeri sekalipun. Karna kecerdasannya, karyanya, kesetiaan cintanya dan lain-lain. Beliau dikenal sebagai ahli penerbang karna kemampuannya membuat pesawat terbang. Dan belum ada tokoh indonesia yang mampu membuat pesawat terbang sebelum beliau.

Walaupun beliau lama tinggal di jerman dan mempunyai karir yang besar disana, tetapi beliau rela meninggalkan karirnya dan kembali ke tanah air karna kecintaannya. “Apa yang membuat saya begitu mencintai indonesia, dan berani meninggalkan karir di jerman? Karna proses pembudayaan yang diberikan oleh orang tua saya dan keyakinan bahwa kalau bukan ‘ANAK BANGSA’ yang membangun indonesia jangan harap orang lain membangunnya”. Ucap B.J Habibie

Pada tahun 1998 beliau terpilih menjadi wakil presiden. Namun pada bulan mei 1998 presiden soeharto lengser, dan digantikan oleh B.J Habibie. Karna saat itu beliau adalah wakil presiden, dan beliau memimpin indonesia tanpa seorang wakil presiden. Beliau hanya sebentar memimpin indonesia pada tahun 1999 beliau lengser karna beliau tidak merasa enjoy di dunia politik, dan tidak berminat lagi terjun ke dunia politik. Padahal banyak peluang untuk beliau.

Tetapi beliau tidak berhenti menyumbang karyanya untk bangsa indonesia. Beliau menulis sebuah novel best seller yang berjudul Habibie & Ainun. Hingga novel itu diangkat menjadi film layar lebar. Film itu mengisahkan tentang kisah cinta mereka selama 48 tahun 10 hari. Yang mana B.J Habibie diperankan oleh Reza Rahadian, dan Ainun yang diperankan oleh Bunga Cinta Lestari. Film tersebut ditonton oleh 4,5 juta penonton indonesia, dan juga ditayangkan diluar negeri dengan jumlah penonton yang tak kalah banyak. Perjuang hidup mereka dinegara lain, disebuah paviliun kecil dengan harga yang mahal. Harga sewa paviliun itu setengah gaji beliau sehingga beliau harus meminta sang istri harus membuat baju sendiri menggunakan mesin jahit yang diberikan oleh beliau untuk sang istri ketika ulang tahunnnya. Mesin jahit yang beliau beli itu berharga mahal karena mesin jahit itu bermerek singer. Mesin jahit itu beliau bayar dengan mencicil dengan waktu yang lumayan lama, karna keterbatasan ekonomi yang beliau punya.

Hanya dengan kabar kehamilan sang istri, beliau cukup merasa senang meskipun dibalik semua itu mereka dilanda kesusahan. Namun mereka tetap mensyukurinya, dan sang istri hanyalah perantara karna bayi yang dikandung hanyalah titipan dari Allah SWT untuk mereka berdua. Sehingga anak pertama mereka diberi nama Ilham Akbar yang berarti Ilham itu besar. Agar mereka selalu mengingat saat bersejarah ketika mereka melewati rintangan dinegara lain. Untuk menambah pemasukan rumah tangga mereka sang istri memutuskan untuk berusaha mencari pekerjaan. Sang istri bekerja dirumah sakit anak-anak di Hamburg, Jerman. Berangkat pukul 06:30 pagi dan pulang pukul 18:00 petang. Sesampai dirumah urusan rumah tangga menanti. Hidup mereka berat dan penuh perjuangan.

Beliau sangat sering mendapatkan tantangan ditempat kerjanya. Sampai beliau hampir menyerah karena tantangan yang melandanya. Tetapi betapa beruntungnya beliau memiliki pasangan hidup seperti istri yang beliau punya. Ketika beliau lemah, sang istri menguatkan. “tugas lain sebagai istri adalah tutwuri handayani, dibelakang memberi dorongan semangat”. Kata ainun. Dan banyak rintangan lainnya selain ditempat kerjanya yang beliau lewati.

Karna kehadiran anak pertamanya sang istri memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanya dan memilih untuk mengurus anaknya sendiri. Dengan kehadiran sang anak, mereka membutuhkan ruang yang lebih luas paviliun kecil yang mereka tempati terasa sangat sempit. Kemudian memutuskan untuk pindah keapertemen yang lebih besar dengan dua kamar tidur, kamar tamu, kamar mandi dan dapur.

Setelah kepindahan mereka hari-hari sang istri bertambah berat lagi. Karna beliau sering pulang malam karna mengerjakan pekerjaanya, belum lagi jika beliau menghadapinya dengan kesabaran dan ketabahan yang ia miliki. Namun, datanglah hari dimana beliau kehilangan sosok yang beliau sayangi. Sang istri meninggal pada 22 mei 2010 karna mengindap penyakit kanker leher rahim di klinikum grobhadren muchen, Jerman. Setelah 48 tahun 10 hari kebersamaan mereka. Beliau selalu terbayang sang istri di setiap tempat, merasakan sang istri selalu ada dimana-mana. Beliau merasa rapuh membayangkan akan mengalami kesedihan yang mendalam ketika hidup sendiri. Tanpa senyum manis, kasih sayang, perhatian sang istri.

9 tahun berlalu beliau menjalani hidupnya tanpa seorang istri. Tanpa berniat untuk mencari pengganti posisi sang istri di dalam hatinya. Kanra faktor umur yang berlanjut, detik demi detik terkadang kita tak pernah tahu kapan kematian datang. Yang kini melanda bapak negara kita, bapak tercinta kita B.J Habibie beliau telah meninggalkan kita untuk selamanya. Bertepatan pada tanggal 11 september 2019 karna mengindap penyakit gagl jantung dan dirawat dirumah sakit pusat angkatan darat gatot soebroto, Jakarta.

#Risfadillah anak kelas V muallimin, asal Bekasi. Santriwati AL-Hidayah Al-Mumtazah.