Perjuangan seorang gadis yang baru berhijrah dia bernama Gendis Syaiqilla yang mempunyai mata panda yang indah, imannya diuji terus-menerus saat mencoba mencari pekerjaan dibeberapa perusahaan terdekat, namun semua perusahaan yang dia coba selalu gagal, tekadnya hanya satu yaitu menjaga hijab dan kehormatan dirinya.
“Anda teroris ya?” Tanya seseorang laki-laki tua itu sarkatis, tatapan lelaki itu tajam penuh selidik, membuat Gendis tak menyangka bahwa dirinya akan dikata ‘teroris’, apa penampilannya seperti orang yang akan melakukan kejahatan?
“Maaf Pak, saya memang orang islam, tapi saya bukan teroris yang bapak katakan tadi.” Jawab Gendis lugas, sebenarnya hatinya tidak terima dikata teroris, karena menurutnya orang yang memakai hijab dan bercadar itu bukanlah teroris yang semua orang bilang. Gendis memang sudah dengar cerita itu, namun ketika dirinya yang dikata teroris membuat hatinya terluka dan perih.
“Owh… Maaf mbak, saya kira anda teroris tapi, perusahaan kami tidak menerima karyawan seperti anda, jika anda mau anda harus melepas hijab anda terlebih dahulu.” Ucap lelaki tua itu tegas dengan menatap Gendis penuh arti.
“Apa hubungannya kreteria calon karyawan dengan penampilan mereka? Kalau begitu saya permisi pergi. Assalamualaikum,” Sahut Gendis dengan menahan amarahnya yang sedang memburu, Gendis pun memilih untuk pergi dari pada dia harus menerima permintaan Bapak tua itu, menurutnya lebih baik tidak diterima secara terhormat dari pada harus membiarkan kehormatannya ternodai.
####
“Bagaimana Nak? Apakah kamu sudah dapat kerjaan?” Terdengar suara khas yang berat, membuat Gendis berpikir bagaimana menjawab pertanyaan Ibunya.
“Belum Bu,” Akhirnya kata itulah yang keluar dari bibir Gendis dengan lirih, ditatapnya Gendis oleh Ibunya, dengan tatapan penuh iba.
“Tadi Bapakmu mendaftarkanmu diperusahaan baru yang ada di Jakarta, dan besok kamu harus kesana untuk diwawancarai, dan mengikuti tes.” Gendis menghela nafas panjang, tubuhnya terasa lelah, namun dia harus menuruti perintah Bapaknya yang menginginkannya kerja disebuah perusahaan.
“Kasihan Bapak kamu selalu ditanya sama tetangga kalau habis pulang kerja katanya ‘Teh Gendis kerja dimana?’. Sering kali Bapak kamu ditanya. Itu akan membuat Bapak kamu malu anak udah S2 tapi, masih nganggur.”
“Insya Allah Bu, Gendis akan kesana besok. Doakan Gendis supaya diterima.” Ucap Gendis tersenyum kecut, Gendis bingung kenapa Bapaknya menginginkannya untuk kerja diperusahaan, sedangkan selama ini Gendis mempunyai pekerjaan walaupun tidak setiap hari, pendakwah jugakan kerjaan yang mulia.
Setelah mendengar saran dari Bapaknya Gendis, dia pun pergi ke Jakarta dan mendatangi perusahaan yang Bapak sama Ibunya maksud, perusahaan itu bernama Majapahit, dilihatnya bangunan yang menjulang tinggi itu, yakinnya bisa diterima namun entahlah, ketika Gendis baru menginjakan kakinya diperusahaan itu kehadirannya membuat semua mata tertuju padanya, wajar saja pakaian Gendis terlihat begitu mencolok diantara yang lain, ada yang melihatnya tersenyum ada pula yang melihatnya penuh selidik, dan ada pula yang melihatnya sekilas lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya lagi.
“Gadis sok alim, percuma saja memakai hijab dan bercadar, jika buat pamer saja, dasar munafik!” Cibir seseorang dengan bisik-bisik namun, suaranya itu mampu masuk kegendang telinga Gendis, sehingga telinga Gendis terasa panas, dirinya dikuasai dengan amarah apalagi saat mendengar kata ‘munafik’ ingin sekali dia membalas, namun hatinya menahan. “Sabar.” Pekiknya dalam hati.
Kemudian seorang laki-laki tua menghampiri Gendis, tatapannya tajam namun Gendis membalasnya dengan senyum. “Ikut saya keruang wawancara.” Pinta laki-laki tua itu, dan berjalan mendahului Gendis yang berjalan dibelakang mengikutinya. Bibir Gendis tak pernah lelah memanjatkan doa. Dia pun berjalan dengan penuh antusias.
Ruang wawancara itu begitu dingin, hanya ada Gendis dan Pak Payyad seorang yang akan mewawancarainya membuat Gendis merasa tegang. Begitu banyak pertanyaan yang Pak Payyad itu lontarkan, sudah 20 pertanyaan yang Gendis jawab dengan sejujur-jujurnya, dan pada akhirnya laki-laki tua itu meminta Gendis untuk melepas cadarnya saat berfoto, permintaannya itu membuat Gendis melotot, dadanya tiba-tiba terasa sesak, kini matanya terasa pedas. “Bagaimana apakah bisa?” Tanyanya lagi dengan paksa sambil mengangkat sebelah alisnya, saat Gendis tak kunjung menjawab.
Gendis sudah menguatkan imannya selama ini, walaupun ia baru beberapa tahun berhijrah namun dia sudah bertekad untuk tidak melepas hijabnya demi apapun itu. “Maaf Pak, saya tidak bisa.” Jawab Gendis lugas, setelah menguatkan imannya yang melemah. Bagi Gendis tekadnya itu tidak bisa ditawar dengan apapun. Walaupun Gendis ingin sekali bekerja diperusahaan Majapahit itu.
“Saya cuma bertanya saja, karena anda bisa mempertimbangkannya lagi.” Ucap Pak Payyad sambil tersenyum tipis, Gendispun beranjak pergi saat wawancaranya sudah selesai, lolos tidaknya dia hari ini, itu adalah urusan belakangan, yang penting dia sudah menyelamatkan kehormatannya.
####
“Bagaimana wawancaranya tadi, Nak?” Tanya Bapak, saat Gendis menyalami dan mencium tanganya patuh.
“Alhamdulillah Pak, tinggal nunggu pengumumannya nanti.”
“Apa kemungkinan kamu bakan diterima?” Tanya Bapaknya penuh harap.
“Insya Allah Pak.” Jawab Gendis sambil tersenyum, walaupun hatinya sedih, kemungkinan besar dia tidak diterima. Jika Gendis menyatakan kejadian tadi saat dia diwawancara, itu akan menghancurkan harapan Bapaknya.
Lalu Bapaknya menatap anak perempuannya. “Bagaimana kalau kamu melepas cadar kamu pas seleksi.” Itu bukan pertanyaan tapi permintaan.
“Gendis tidak mau Pak, lebih baik Gendis cari perusahaan yang lain yang lebih mengenal toreransi sesama muslim,” Tandas Gendis penuh amarah, tak menduga bahwa Bapaknya akan berkata itu, membuat Gendis teringat akan permintaan Pak Payyad pewancaranya tadi. Saking kesalnya Gendis pun pergi meninggalkan Bapaknya.
Gendis pun membaringkan tubuhnya diatas kasur, badannya terasa pegal setelah melaksanakan wawancara tadi, pikirannya kembali dihantui kebimbangan. Air matanya mulai menetes, karena sudah lama Gendis menahannya, tapi suara Ibunya membuat Gendis langsung menyerka air matanya dengan cepat. “Gendis”
Gendis pun langsung bangun dan membukakan pintu kamarnya, saat mendengar panggilan Ibunya dari luar pintu.
“Makan dulu Nak, kamu pasti capek iyakan?” Tanya Ibunya sambil menaruh makan diatas nakas. “Kamu sudah mengikuti tes, Nak?” Lanjutnya lagi lalu duduk ditepi kasur Gendis.
“Udah Bu,” Jawabnya tersenyum samar, Ibunya tau bahwa senyuman itu adalah luka yang disembunyikan.
“Bagaimana dengan peraturan agamanya?” Kini Gendis menunduk menarik nafas lalu membuangnya secara perlahan.
“Terlalu berat Bu, buat Gendis.” Gendis mencoba menatap wajah Ibunya, terlihat benungan air dikelopak mata Ibunya, membuat Gendis pun tak bisa menyembunyikan lukanya.
Akhirnya Gendis pun menceritakan kejadian tadi yang dialaminya, dari awal dia masuk keperusahaan Majapahit itu, yang langsung mendapat hinaan hingga Pak Payyad pewancaranya meminta Gendis untuk melepas hijabnya. Membuat Gendis menangis dalan pelukan sang Ibu. “Maafkan Ibu dan Bapakmu Nak, jika itu prinsip kamu, pertahankanlah. Semoga suatu saat nanti kamu akan mendapatkan pekerjaan tanpa harus melepas hijabmu.”
####
“Sudah terserah kamu Nak, dikasih saran kok selalu ditolak itukan demi kebaikan kamu juga.” Kata Bapaknya pedas, sangat menusuk hati Gendis. Selama ini Gendis tidak pernah membantah perintah Bapaknya. Tapi, untuk melepas hijab Gendis terpaksa harus menolaknya. Lalu Bapaknya pergi meninggalkan Gendis yang hanya diam.
“Ya Allah ketika hati ini kuikhlaskan untuk menjalankan syariat-mu, kumohon kuatkanlah tekadku selama ini.”
Gendis berdoa saat selesai sholat, kini Bapak dan Ibu tak lagi membahas pekerjaan lagi, sudah 2 tahun Gendis menganggur membuat Bapak dan Ibu khawatir karena anaknya yang lulusan perguruan tinggi menganggur 2 tahun, Gendis tetap mengajar TPA selama dia belum mendapatkan kerjaan, namun suatu hari Gendis kembali pamit untuk mengikuti job fair dikampusnya, banyak karyawan jurusan tinggi yang dibidik oleh perusahaan untuk mencari calon karyawan dengan mendatangi kampus-kampus.
Gendis kaget melihat banyaknya peserta yang hampir ratusan pelamar. Gendis berusaha semaksimal mungkin agar bisa lolos. Pewancara memanggil semua peserta memberikan informasi yang dapat bergabung dengan perusahaan mereka, dan hanya tersisa 5 orang saja, dan dipilih lagi menjadi 3 dan 2 orangnya keluar, Gendis adalah salah satu peserta yang tersingkirkan itu, hatinya hancur. Harapannya selama ini tidak sesuai dengan kenyataan. “Maafkan Gendis Pak, Gendis hanya ingin mempertahankan tekad, Gendis hanya ingin menyelamatkan Gendis, Bapak dan Ibu dari api neraka, Gendis mohon Pak, ikhlaskanlah apapun yang Gendis lakukan.”
“Iya, maafkan Bapak juga ya yang selalu memaksa kamu, pertahankanlah tekad kamu yang mulia itu Nak, uang bisa dicari dimana-mana.” Gendis sangat bahagia, mendengar perkataan Bapaknya itu, semoga saja Bapak memahami jalan pikirannya selama ini.
1bulan kemudian, Saybah temannya Gendis mengajar di TPA memberitahu Gendis bahwasannya Gendis diterima diperusahaan Pak Jaya teman Bapaknya Saybah, begitu senangnya Gendis mendengar kabar itu, namun ada raut sedih diwajahnya saat melihat anak-anak datang memeluknya. “Jangan lupakan kita Teh.” Ucap salah satu dari mereka sambil menangis.
“Gak akan Teteh lupakan anak-anak yang sudah sungguh-sungguh mengaji ini, nanti Teh Gendis akan datang untuk menemui kalian, dan jangan nakal selama Teh Gendis pergi, kalian akan diajar bersama Teh Saybah.” Sahut Gendis berusaha membuat anak-anak yang sudah menemaninya selama 2 tahun ini. Jujur hari ini dia sangat senang, setelah beribu-ribu masalah yang Gendis alami selama ini membuatnya bersyukur.
####
“Karena anda punya sebuah tekad dan berhasil mempertahankannya, Saya menghargai perbedaan agama, saya menghargai amarah anda saat dikatakan anda sebagai teroris, walau demikian anda masih beusaha bersabar.” Kalimatnya terpotong, laki-laki itu menatap Gendis, dan terlihat wajah serius Gendis mendengarkan kata demi kata yang disampaikannya. “Diperusahaan ini anda bebas menjalankan syariat agama anda, jika anda aktif berdakwah anda boleh berdakwah dimasjid perusahaan. Saya izinkan.” Gendis sangat senang mendengarnya. Gendis yakin jika dia menolong agamanya, pasti Allah pun akan memberi jalan keluar yang tak disangka-sangka.